Macam-macam Perkerasan Jalan

 1. Rigid Pavement (Perkerasan Kaku)




RIGID PAVEMENT atau Perkerasan Kaku adalah suatu susunan konstruksi perkerasan di mana sebagai lapisan atas digunakan pelat beton yang terletak di atas pondasi atau di atas tanah dasar pondasi atau langsung di atas tanah dasar (subgrade).
sudah sangat lama dikenal di Indonesia. Ia lebih di kenal pada masyarakat umum dengan nama Jalan Beton. Perkerasan tipe ini sudah sangat lama di kembangkan di negara – negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman dll.




JENIS – JENIS PERKERASAN KAKU
Berdasarkan adanya sambungan dan tulangan plat beton perkerasan kaku, perkerasan beton semen dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis sebagai berikut :
• Perkerasan beton semen biasa dengan sambungan tanpa tulangan untuk kendali retak.
• Perkerasan beton semen biasa dengan sambungan dengan tulangan plat untuk kendali retak. Untuk kendali retak digunakan wire mesh diantara siar dan penggunaannya independen terhadap adanya tulangan dowel.
• Perkerasan beton bertulang menerus (tanpa sambungan). Tulangan beton terdiri dari baja tulangan dengan prosentasi besi yang relatif cukup banyak (0,02 % dari luas penampang beton).
Pada saat ini, jenis perkerasan beton semen yang populer dan banyak digunakan di negara-negara maju adalah jenis perkerasan beton bertulang menerus.
Dalam konstruksinya, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton pada bagian atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.
Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, mendistribusikan beban dari atas menuju ke bidang tanah dasar yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan.

Karena yang paling penting adalah mengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban, maka faktor yang paling diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan beton semen adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanya beragam kekuatan dari tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh kecil terhadap kapasitas struktural perkerasannya.
Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa pertimbangan, yaitu antara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainasi, kendali terhadap kembang-susut yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja (working platform) untuk pekerjaan konstruksi.
Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :
1. Menyediakan lapisan yang seragam, stabil dan permanen.
2.         Menaikkan harga modulus reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k), menjadi modulus reaksi gabungan (modulus of composite reaction).
3.         Mengurangi kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.
4.         Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.
5.         Menghindari terjadinya pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air pada daerah sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas terakumulasi di bawah pelat.
PERSYARATAN UMUM
Tanah Dasar
Untuk daya dukung tanah ditentukan oleh CBR insitu sesuai dengan SNI 03-1731-1989 atau CBR Laboratorium sesuai dengan SNI 03-1744-1989, masing – masing untuk perencanaan tebal perkerasan lama dan perkerasan jalan baru. Di sini apabila tanah dasar memiliki nilai CBR di bawah 2% maka digunakan pondasi bawah yang terbuat dari beton kurus setebal 15 cm sehingga tanah dianggap memiliki CBR 5%.
Pondasi Bawah
Untuk bahan pondasi bawah biasanya digunakan :
-          Bahan Berbutir
-          Stabilisasi atau dengan beton giling padat (Lean Rolled Concrete)
-          Campuran beton kurus (Lean-Mix Concrete)
Beton Semen
Kekuatan beton harus dinyatakan dalam nilai kuat tarik uji lentur (flexural, strength) umur 28 hari, yang didapat dari hasil pengujian balok dengan pembebanan tiga titik (ASTM C-78) yang besarnya secara tipikal sekitar 3-5 Mpa (30-50 kg/cm2).
Beton juga bisa di perkuat dengan serat baja (stell fibre) untuk memperkuat kuat tarik lenturnya serta mengendalikan retak pada plat khususnya bentuk tak lazim.
Lalu Lintas
Untuk penentuan beban lalu lintas rencana pada perkerasan beton semen  dinyatakan dalam jumlah sumbu kendaraan niaga sesuai dengan konfigurasi sumbu pada lajur rencana selama umur rencana.
Lalu lintas harus dianalisis berdasarkan hasil perhitungan volume lalu lintas dan konfigurasi sumbu menggunakan data terakhir atau data 2 tahun terakhir. Untuk kendaraan yang ditinjau memiliki berat total minimum 5 ton.
Bahu
Bahu dapat terbuat dari bahan lapisan pondasi bawah dengan atau tanpa lapisan penutup beraspal atau lapisan beton semen.
Nah, pada pedoman yang dimaksud dengan Bahu beton semen adalah bahu yang dikunci dan diikatkan dengan lajur lalu-lintas dengan lebar minimum 1,50 m, atau bahu yang menyatu dengan lajur lalu-lintas selebar 0,60 m yang juga mencakup saluran dna kereb.
Sambungan
Sambungan pada perkerasan beton berfungsi sebagai :
-          Membatasi tegangan dan pengendalian retak yang disebabkan oleh penyusutan, pengaruh lenting serta beban lalu lintas.
-          Memudahkan pelaksanaan
-          Mengakomodasi gerakan pelat
Nah untuk polanya, sambungan beton semen memiliki batas – batas tersendiri diantaranya :
-          Panel diusahakan sepersegi mungkin dengan perbandingan maksimum panjang dan lebarnya 1,25
-          Jarak maksimum sambungan memanjangnya 3-4 m
-          Jarak maksimum sambungan melintang 25 kali tebal plat, maksimum 5 m
-          Antar sambungan harus terhubung dengan satu titik untuk menghindari terjadinya retak refleksi pada lajur bersebelahan
-          Sudut dari sambungan yang lebih kecil dari 60 derajat harus dihindari dengan mengatur 0.5 m panjang terakhir dibuat tegak lurus terhadap tepi perkerasan
-          Semua bangunan lain seperti manhole harus dipisahkan dari perkerasan dengan sambungan muai selebar 12 mm meliputi keseluruhan tebal plat.


 2. Flexible Pavement (Perkerasan Lentur)

Kontruksi perkerasan lentur (flexible Pavement) adalah merupakan perkerasan yang menggun akan aspal sebagai bahan pengikat.
Kontruksi perkerasan lentur, umumnya terdiri dari atas : lapis pondasi bawah (subbase
course), lapis pondasi (base course), dan lapis permukaan (surface course).

Lapis Permukaan
Lapis permukaan struktur perkerasan lentur terdiri atas campuran mineral agregat dan bahan pengikat yang ditempatkan sebagai lapisan paling atas dan biasanya terletak di atas lapis pondasi.
Fungsi lapis permukaan antara lain :
1)Sebagai bagian perkerasan untuk menahan beban roda.
2)Sebagai lapisan tidak tembus air untuk melindungi badan jalan dari kerusakan akibat cuaca.
3)Sebagai lapisan aus (wearing course)
Bahan untuk lapis permukaan umumnya sama dengan bahan untuk lapis pondasi dengan persyaratan yang lebih tinggi.
Pengunaan bahan aspal diperlukan agar lapisan dapat bersifat kedap air, disamping itu bahan aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik, yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan terhadap beban roda.
Pemilihan bahan untuk lapis permukaan perlu mempertimbangkan kegunaan, umur rencana serta pentahapan kontruksi agar dicapai manfaat sebesar-besarnya dari biaya yang dikeluarkan.
Lapis Pondasi Atas
Lapis podasi adalah bagian dari struktur perkerasan lentur yang terletak langsung di bawah lapis permukaan. Lapis pondasi dibangun di atas lapis pondasi bawah atau, jika tidak menggunakan lapis pondasi bawah, langsung diatas tanah dasar.
Fungsi lapis pondasi antara lain :
1)Sebagai bagian kontruksi perkerasan yang Manahan beban roda.
2)Sebagai perletakan terhadap lapis perkerasan.
Bahan-bahan untuk lapis pondasi harus cukup kuat dan awet sehingga dapat
menahan beban-beban roda. Sebelum menentukan suatu bahan untuk
digunakan sebagai bahan pondasi, hendaknya dilakukan penyelidikan dran
pertimbangan sebaik-baiknya sehubungan dengan persyaratan teknik.
Bermacam-macam bahan alam/setempat (CBR > 50%, PI < 4%) dapat
digunakan sebagai bahan lapis pondasi, antara lain : batu pecah, kerikil pecah yang distabilisasi dengan semen, aspal, pozzolan, atau kapur.

Lapis Pondasi bawah
Lapis pondasi bawah adalah bagian dari struktur perkerasan lentur yang terletak antara tanah dasar dan lapis pondasi. Biasanya terdiri atas lapisan dari material berbutir (granular material) yang dipadatkan, distabilisasi ataupun tidak, atau lapisan tanah yang distabilisasi.
Fungsi lapis pondasi bawah :
1)Sebagai bagian dari kontruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebar beban roda.
2)Mencapai efisiensi penggunaan material yang relative murah agar lapisan-lapisan di atasnya dapat dikurangi ketebalannya (penghematan biaya kontruksi).
3)Mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.
4)Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan kontruksi berjalan lancar.
Lapis pondasi bawah diperlukan sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap roda-roda alat berat (terutama pada saat pelaksanaan kontruksi) atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengatuh cuaca.
Bermacam-macam jenis tanah setempat (CBR ≥ 20%, PI ≤ 10%) yang relative lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi bawah.
Campuran-campuran tanah setempat dengan kapur atau semen Portland, dalam beberapa hal sangat dianjurkan agar diperoleh bantuan yang efektif terhadap kestabilan kontruksi perkerasan.

Tanah Dasar
Kekuatan dan keawetan kontruksi perkerasan jalan sangat tergantung pada sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.
Dalam pedoman ini diperkanalakan modulus resilien (MR) sebagai parameter tanah
dasar yang digunakan dalam perencanaan.
Modulus resilien (MR) tanah dasar juga dapat diperkirakan dari CBR standard dan hasil atau nilai tes soil index. Korelasi Modulus Resilien dengan nilai CBR (Heukelom & Klomp) berikut ini dapat digunakan untuk tanah berbutir halus (finegrained soil) dengan nilai CBR terendam 10 atau lebih kecil. MR(psi)= 1.500 x CBR(1.1)
Persoalan tanah dasar yang sering ditemui antara lain :
1)Perubahan bentuk tetap (deformasi permanent) dari jenis tanah tertentu akibat beban lalu-lintas.
2)Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.
3)Daya dukung tanah tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dan jenis tanah yang sanagt berbeda sifat dan kedudukannya, atau akibat pelaksanaan kontruksi.
4)Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu-lintas untuk jenis tanah tertentu.
5)Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu-lintas dan penurunan yang diakibatkannya, yaitu apada tanah berbutir (granular soil) yang tidak dipadatkan secara baik pada saat pelaksanaan kontruksi

3. Composite Pavement (perkerasan komposit)
Jenis konstruksi perkerasan jalan raya ini memadukan antara jenis konstruksi perkerasan kaku dan jenis konstruksi perkerasan lentur. Konstruksi perkerasan lentur diposisikan di atas konstruksi perkerasan kaku atau bisa juga sebaliknya.
  Perkerasan komposit merupakan gabungan konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) dan lapisan perkerasan lentur (flexible pavement) di atasnya, dimana kedua jenis perkerasan ini bekerja sama dalam memilkul beban lalu lintas. Untuk ini maka perlua ada persyaratan ketebalan perkerasan aspal agar mempunyai kekakuan yang cukup serta dapat mencegah retak refleksi dari perkerasan beton di bawahnya.
          Konstruksi ini umumnya mempunyai tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi pengendara dibandingkan dengan konstruksi perkerasan beton semen sebagai lapis permukaan tanpa aspal.

Nah, itulah jenis-jenis perkerasan jalan raya yang digunakan pada jalan-jalan raya. Penentuan jenis perkerasan jalan raya yang akan digunakan dalam proses pembuatan jalan tentunya disesuaikan dengan beban yang akan ditanggung oleh jalan tersebut. Pemilihan jenis perkerasan jalan raya yang sesuai dengan bebannya tentu akan membuat jalan raya menjadi lebih awet dan tahan lama.



Sumber:
http://rezaslash.blogspot.com/2012/12/perkerasan-kaku-rigid-pavement.html
https://docplayer.info/39991955-1-kontruksi-perkerasan-lentur-flexible-pavement.html
https://strong-indonesia.com/artikel/jenis-perkerasan-jalan-raya/
http://sudarman28.blogspot.com/2011/02/perancangan-perkerasan-jalan_23.html
























Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERUSAKAN JALAN FLEXIBEL PAVEMENT DAN RIGID PAVEMENT

penjelasan tentang K3 dan dokumen lingkungan pekerjaan jalan