Penjelasan Detail Terkait Bahan Aspal. 1). Jenis Aspal, 2). Bahan Susun Aspal, 3). Proses Terjadinya
PENJELASAN
DETAIL TERKAIT BAHAN ASPAL
1.
JENIS
ASPAL
2.
BAHAN
SUSUN ASPAL
3.
PROSES
TERJADINYA ASPAL
Aspal didefinisikan sebagai material perekat (cementitious),
berwarna
hitam atau coklat tua, dengan unsur utama bitumen.
Aspal dapat diperoleh di alam
ataupun merupakan residu dari pengilangan minyak bumi.
Aspal merupakan
material yang paling umum digunakan untuk bahan
pengikat agregat, oleh karena
itu seringkali bitumen disebut pula sebagai aspal.
(Silvia Sukirman,2003)
Aspal adalah material yang pada temperatur ruang
berbentuk padat sampai
agak padat, dan bersifat termoplastis. Jadi, aspal
akan mencair jika dipanaskan
sampai temperatur tertentu, dan kembali membeku jika
temperatur turun. Bersama
dengan agregat, aspal merupakan material pembentuk
campuran perkerasan jalan.
Banyaknya aspal dalam campuran perkerasan berkisar
antara 4–10% berdasarkan
berat campuran, atau 10 – 15% berdasarkan volume
campuran.
1.
JENIS ASPAL
Berdasarkan tempat diperolehnya, aspal dibedakan atas
aspal alam dan
aspal minyak. Aspal alam yaitu aspal yang didapat di
suatu tempat dialam, dan
dapat digunakan sebagaimana diperolehnya atau dengan
sedikit pengolahan.
Aspal alam atau asbuton merupakan campuran antara
bitumen dengan bahan
mineral lainnya dalam bentuk batuan. Karena asbuton
merupakan material yang
ditemukan begitu saja di dalam alam, maka kadar
bitumen yang dikandungnya
sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi. Sedangkan
aspal minyak yaitu aspal
yang merupakan residu pengilangan minyak bumi. Jika
dilihat bentuknya pada
temperatur ruang, maka aspal dibedakan atas aspal
padat, aspal cair, dan aspal
emulsi.
·
Aspal
padat
adalah aspal yang berbentuk padat atau semi padat pada
suhu
ruang dan menjadi cair jika dipanaskan. Aspal padat
dikenal nama semen
aspal (asphalt cement). Oleh karena itu semen
aspal harus dipanaskan
terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan
pengikat agregat.
·
Aspal
cair (cutback asphalt)
adalah aspal yang berbentuk cair pada suhu
ruangan. Aspal cair merupakan semen aspal yang
dicairkan dengan
bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi
seperti minyak tanah,
bensin, atau solar. Bahan pencair membedakan aspal
cair menjadi :
Ø Rapid
curing cut back asphalt (RC), yaitu aspal cair
dengan bahan
pencair bensin. RC merupakan aspal cair yang paling
cepat menguap.
Ø Medium
curing cut back asphalt (MC), yaitu aspal cair
dengan bahan
pencair minyak tanah (kerosene).
Ø Slow
curing cut back asphalt (SC), yaitu aspal cair
dengan bahan
pencair solar (minyak diesel). SC merupakan aspal cair
yang paling
lambat
menguap.
·
Aspal
emulsi (emulsified asphalt)
adalah suatu
campuran aspal dengan
air dan bahan pengemulsi, yang dilakukan di pabrik
pencampur. Aspal
emulsi ini lebih cair daripada aspal cair. Di dalam
aspal emulsi, butir –
butir aspal larut dalam air. Berdasarkan kecepatan
mengerasnya, aspal
emulsi dapat dibedakan atas :
Ø Rapid
Setting (RS), yaitu aspal yang mengandung sedikit bahan
pengemulsi sehingga pengikatan yang terjadi cepat, dan
aspal cepat
menjadi padat atau keras kembali.
Ø Medium
Setting (MS)
Ø 3. Slow
Setting (SS), yaitu jenis aspal emulsi yang paling lambat
mengeras.
Dari ketiga bentuk aspal, semen aspal adalah bentuk
yang paling banyak
digunakan.
2. BAHAN SUSUN ASPAL
Aspal yang dipergunakan pada konstruksi
perkerasan jalan berfungsi sebagai berikut :
1) Bahan pengikat, memberikan ikatan
yang kuat antara aspal dan agregat dan antara aspal itu sendiri.
2) Bahan pengisi, mengisi rongga antara
butir-butir agregat dan pori-pori yang ada dari agregat itu sendiri.
Karena itu, untuk dapat berfungsi
sebagai bahan pengikat dan bahan pengisi, aspal haruslah mempunyai kemampuan
daya tahan (tidak cepat rapuh) terhadap cuaca, mempunyai adhesi dan kohesi yang
baik dan memberikan sifat elastis yang baik.
Bahan Baku Batu Pecah/Agregat. Agregat adalah bahan utama yang
digunakan untuk lapisan permukaan perkerasan jalan atau beton, agregat ini
diperoleh dari hasil penambangan batu-batuan pada sungai-sungai yang ada di
Aceh Tamiang dan daerah lainya, kemudian batu–batuan tersebut diproses melalui
mesin perengkahan Stone Crusher yang menghasilkan beberap
jenis agregat sesuai dengan yang di inginkan. dalam perkerjaan kosntruksi
menurut standar SNI (Satandar Nasional Indonesia) tentang penggunaan agregat
yang diproduksi adalah agregat dengan ukuran 1, 1/2, ¾ inch, dan abu
batu pada umumnya, yang selanjunya disimpan di gudang untuk dijadikan stock dan
sebagian di simpan pada bin-bin penampung bahan baku untuk pembuatan aspal
beton pada unit AMP (Aspal Mixing Plant). Bahan baku batu
pecah/agregat dapat dilihat pada Gambar berikut.
2. Bahan Baku Aspal
Aspal ialah bahan baku yang digunakan untuk mengikat antara
agregat yang satu dengan yang lainya atau juga sebagai katalis agar agregat
dapat menjadi satu padu, kuat, keras dan tahan terhadap perubahan cuaca. Jenis
aspal yang digunakan ialah aspal emulsi yang diperoleh dari hasil penyulingan
minyak bumi. diimpor dari berbagai produsen yang ada di dalam maupun luar
negeri. Aspal emulsi dapat dilihat pada Gambar dibawah.
Gambar Aspal Emulsi
3.
Filler.
Filler adalah bahan penambah pada proses pencampuran atara agregat dengan
aspal yang berfungsi untuk menutup pori-pori yang ada pada permukaan aspal
beton yang disebabkan karena kurangnya campuran dari gradasi agregat pada unit
timbangan. Bahan pengisi yang ditambahkan terdiri atas debu batu kapur (limestone
dust), kapur padam (hydrated lime), semen atau abu terbang yang
sumbernya disetujui oleh Direksi Pekerjaaan. Bahan pengisi yang
ditambahkan harus kering dan bebas dari gumpalan-gumpalan dan bila diuji dengan
pengayakan sesuai SNI (Standar Nasional Indonesia) 03-1968-1990 harus
mengandung bahan yang lolos ayakan No.200 (75 micron) tidak kurang dari 75 %
terhadap beratnya. Batu kapur (limestone dust) sebagai filler bahan
pengisi pori-pori pada aspal dapat dilihat pada Gambar berikut:
Gambar Filler
4. Bin dingin
Bin dingin (coold bin) adalah bak tempat menampung material agregat
dari tiap-tiap fraksi mulai dari agregat halus sampai agregat kasar yang
diperlukan dalam memproduksi campuran aspal panas (hot mix). Bagian
pertama dari AMP (Aspal Mixing Plant) adalah bin dingin, yaitu
tempat penyimpanan fraksi agregat kasar, agregat sedang, agregat halus dan
pasir. Bin dingin harus terdiri dari minimum 3 sampai 5 bak penampung (bin).
Masing-masing bin berisi agregat dengan gradasi tertentu. Agregat-agregat
tersebut harus terpisah satu sama lain, untuk menjaga keaslian gradasi dari
masing masing bin sesuai dengan rencana campuran kerja (RCK). Untuk
memisahkannya, dapat dipasang pelat baja pemisah antara bin. Dengan demikian
maka loader (alat pengangkut) yang digunakan mengisi masing-masing
bin harus mempunyai bak (bucket) yang lebih kecil dari mulut pemisah
masing-masing bin. Jika pemisah tidak ada maka pengisian masing-masing bin
tidak boleh berlebih yang dapat berakibat tercampurnya agregat. Bin dingin
(cool bin) yang digunakan dapat dilihat pada Gambar berikut
Gambar Bin Dingin (cool bin)
5. Proses Pengeringan Agregat Pada Unit Dryer
Agregat yang diperoleh dari hasil penambangan dan telah diproses di
unit stone crusher yang kemudian disimpan pada bin-bin dingin
(Cool bin) yang sesuai dengan ukuran masing-masing selanjutnya disuplai
atau diangkut menuju dryer dengan menggunakan belkonveyor untuk
dikeringkan dengan unit dryer tujuannya untuk menghilangkan
kadar air, kadar air harus seminim mungkin karena kalau tidak akan
berpengaruh pada pencampuran aspal nantinya. Proses pengeringan pada dryer adalah
dengan cara membakar agregat di dalam kilen yang berputar dengan suhu ±1500 C
proses pembakaran dengan menggunakan bahan bakar solar lama pembakaran ini
belangsung selama ± 45 detik dengan kapasitas ± 80 ton/jam.
Pada unit pengering (dryer) perlu diperhatikan beberapa faktor agar
diperoleh campuran beraspal yang memenuhi syarat, yaitu antara lain:
1.
Kalibrasi alat pengukur temperatur dan pemeriksaan temperatur pemanasan.
Perubahan kuantitas agregat yang masuk ke unit pengering akibat dari pengaturan
bukaan bin dingin dapat menyebabkan pemanasan berlebih (jumlah agregat yang
masuk berkurang sementara panas pembakar tetap).
2.
Pembakaran harus sempurna, hal ini dapat diindikasikan dari warna asap yang
keluar dari cerobong asap adalah putih dan nyala api pembakaran berwarna biru.
Warna asap yang hitam menandakan pembakaran tidak sempurna. Contoh dari akibat pembakaran yang tidak
sempurna adalah, pada saat pengambilan agregat dari hot bin,
agregat terlihat berwarna hitam terselimuti jelaga. Akibat dari hal tersebut
aspal tidak dapat masuk ke pori-pori agregat dan juga tidak dapat melekat
dengan baik ke agregat.
3.
Kadar air
pada agregat harus seminimum mungkin, oleh karena itu dilakukan pemeriksaan
kadar air secara cepat; diambil contoh secukupnya, kemudian dilewatkan pada
cermin yang kering, atau spatula diatas agregat tersebut. Diamati jumlah kadar
air yang mengembun pada permukaan cermin atau spatula. Agregat yang masih
mengandung kadar air akan menghalangi melekatnya aspal ke agregat, sehingga
campuran beraspal berprilaku seolah-olah kelebihan aspal. Unit dryer yang
ada pada PT. Xxxx dapat dilihat pada Gambar berikut:
Gambar Unit Dryer
6. Pengumpul Debu (dust collector).
Alat pengumpul debu (dust collector) harus berfungsi sebagai alat
pengontrol polusi udara di lingkungan lokasi AMP (aspal mixing plant).
Gas buang yang keluar dari sistem pengering ditambah dengan dorongan kipas
pengeluar (exhaust fan) akan dialirkan ke pengumpul debu. Alat pengumpul
debu yang tidak berfungsi dengan baik akan menyebabkan terjadinya polusi udara,
dan ini terlihat jelas dari adanya kotoran atau debu di pohon-pohon atau atap
rumah di sekitar lokasi AMP (Aspal Mixing Plant). Pada PT. Bahtera Karang
Raya yang digunakan adalah sistem pengumpul debu jenis basah (wet scrubber
dust collector), debu yang terbawa gas buangan disemprot dengan air,
sehingga partikel berat akan terjatuh ke bawah dan gas yang telah bersih keluar
dari cerobong asap. Partikel berat tersebut kemudian dialirkan ke bak penampung
(bak air). Jika pada bak air penampung terlihat jelaga yang mengambang dengan
jumlah yang cukup banyak, maka hal ini menunjukkan terjadi pembakaran yang
tidak sempurna pada pengering (dryer). Untuk mencegah hal yang tidak
diinginkan maka dilakukan koreksi atau perbaikan pada pengering (dryer). Gamabr
Pengumpul debu (dust collector) dapat dilihat pada Gambar berikut.
Gambar Pengumpul Debu (dust collector)
7. Proses Pemisahan Agregat Pada Hot Screen.
Agregat yang panas yang telah melalui proses pembakaran dari dryer selanjutnnya
di bawa oleh hot elevator menuju ke atas tower untuk
di lakukan pemisahan pada hot screen, peroses pemisahan
agregat ini adalah dengan cara gravitasi agregat dijatuhkan pada ayakan/screen yang
dirancang sedikit miring agar dapat mengayak atau memisahkan agregat sesuai
dengan ukurannya masing-masing. Pada screen dilengkapi
alat bantu yaitu vibrator yang berfungsi untuk menggetarkan
ayakan agar terjadi ayakan yang optimal. Agregat yang telah disaring/dipisahkan
berdasarkan ukurannya kemudian masuk pada unit hot bin guna
untuk menampung sementara agregat yang akan masuk pada timbangan.
Pemasangan saringan pada unit ayakan panas harus tidak pada ukuran yang
berdekatan. Contoh susunan ayakan untuk campuran beraspal dengan ukuran butir
agregat maksimum 19 mm adalah :
1.
Saringan pertama/teratas berukuran 19 mm, butir agregat yang ukurannya
lebih besar (oversize) dibuang ke saluran pembuangan.
2.
Saringan kedua berukuran 12,5 mm (1/2 inchi). Ukuran butir agregat antara
19 mm sampai 12,5 mm masuk ke bin 1.
3.
Saringan ketiga berukuran 4,75 mm (No. 4). Ukuran butir agregat antara 9,5
sampai dengan 4,75 mm masuk ke bin 2.
4.
Saringan keempat berukuran 2,36 mm (No. 8). Ukuran butir agregat antara 4,75
sampai dengan 2,36 mm masuk ke bin 3. Sementara agregat yang lolos saringan
2,36 mm masuk ke bin 4. Alat hot screen dapat dilihat
pada gambar berikut.
Gambar Hot Screen
8. Bin panas (hot binn)
Bin panas (hot bin) dipasang pada AMP (aspal mixing plant) jenis
takaran (batch). Pada AMP (aspal mixing plant) jenis takaran
umumnya akan terdapat 4 bin yang dilengkapi dengan pembatas yang rapat dan kuat
dan tidak boleh berlubang serta mempunyai tinggi yang tepat sehingga mampu
menampung agregat panas dalam berbagai ukuran fraksi yang telah
dipisah-pisahkan melalui unit ayakan panas. Pada bagian bawah dari tiap bin
panas harus dipasang saluran pipa untuk membuang agregat yang berlebih dari
tiap bin panas yang dapat dioperasikan secara manual atau otomatis. Jika
agregat halus masih menyisakan kadar air (pengering kurang baik) setelah
pemanasan, maka agregat yang sangat halus (debu) akan menempel dan menggumpal
pada dinding bin panas dan akan jatuh setelah cukup berat. Hal tersebut dapat
menyebabkan perubahan gradasi agregat, yaitu penambahan material yang lolos
saringan No. 2000.
9. Timbangan
Timbangan adalah alat yang digunakan untuk menakar/menimbang jumlah
masing-masing agregat sesuai dengan komposisi yang telah ditentukan, proses
penimbanga dilakukan dengan sistem komputerisasi/otomatis. sebelum timbangan
digunakan timbangan telebih dahulu dikalibrasi agar hasil timbangan dapat
akurat biasanya timbangan dikalibrasi dengan bobot teringanya 10 kg, ini
dikarenakan berat jenis dari agregat yang terlalu tinggi sehingga timbangan
tidak akan akurat/ tidak dapat membaca apabila agregat yang ditimbang di bawah
10 kg.
Faktor-faktor penting pada unit timbangan agregat yang perlu mendapat
perhatian antara lain sebagai berikut :
1. Kalibrasi timbangan.
2. Weigh box tergantung
bebas.
3. Kontrol harian terhadap kinerja
operator AMP (aspal mixing plant).
Timbangan agregat dapat dilihat pada Gambar berikut.
Gambar 3.9 Timbangan
9. Proses Pemanasan Aspal Padat Pada Boiler Fire Tube.
Dalam proses pencampuran aspal ini penulis menjelaskannya secara terperinci pada BAB 4 sebagai tugas khusus yang berkaitan dengan proses pemanasan aspal dan pencampurannya pada mixer
10. Proses Akhir Mixer.
Mixer adalah alat untuk proses pencampuran dimana agregat yang telah dipanaskan dan telah melalui timbangan ditakar sesuai dengan komposisi yang diinginkan selanjutnya dituangkan kedalam mixer dengan membuka pintu bin panas menggunakan sistem hidrolik yang dikendalikan secara otomatis/manual.
Proses pencampuran pada mixer adalah proses pencampuran
antara agregat panas, aspal, dan filler dengan suhu ± 1500C
cara pengadukan dilakukan dengan memutar poros pengaduk dengan menggunakan
motor listrik lama pengadukan antara 30-40 detik pengadukan dengan kapasitas
800 kg/ 30-40 detik setelah itu agregat yang telah sehomogen mungkin
dicampurkan maka akan dituang langsung ke dalam truk pengankut dengan
cara membuka pintu bukaan yang ada pada bagian bawah mixer dengan control hidrolik.
Campuran aspal beton yang telah keluar dari mixer ini
bersuhu ± 1500C dan setiap jamnya suhunya akan berkurang ± 2.5
- 50C. Alat mixer dapat dililat pada Gambar berikut
Gambar Mixer
11. Tenaga penggerak (genset).
Untuk menjalankan semua bagian-bagian atau komponen-komponen AMP sumber tenaga utamanya adalah generator set atau genset. Pada umumnya genset ini diputar oleh mesin diesel. Kekuatan atau kapasitas genset ini berkapasitas 250 KVA (Kilo Volt Ampere) cukup untuk melayani kebutuhan motor-motor listrik yang dipakai serta peralatan-peralatan lain yang memakai tenaga listrik dan untuk penerangan. Semua sambungan-sambungan aliran listrik harus tertutup untuk mencegah arus pendek serta untuk keamanan lingkungan. Genset yang dipergunakan pada unit Asphalt Mixing Plant dapat dilihat pada Gambar berikut:
Gambar Genset
3.
PROSES
TERJADINYA ASPAL
Sebagian besar dari aspal yang digunakan secara
komersial diperoleh dari minyak bumi. Meskipun demikian, sejumlah besar
aspal terjadi dalam bentuk terkonsentrasi di alam. Alami deposito aspal /
bitumen terbentuk dari sisa-sisa kuno, mikroskopis ganggang ( diatom ) dan
hal-hal sekali-hidup lainnya. Sisa-sisa tersebut disimpan di lumpur di
dasar laut atau danau di mana organisme hidup. Di bawah panas (di atas 50
° C) dan tekanan dari pemakaman jauh di dalam bumi, sisa-sisa diubah menjadi
bahan seperti aspal / bitumen, kerogen , atau minyak bumi.
Deposito alami aspal / bitumen termasuk danau
seperti Danau pitch di Trinidad dan Tobago dan Danau Bermudez di
Venezuela. Alami merembes dari aspal / bitumen terjadi di La Brea Tar Pits
dan di Laut Mati .
Aspal / bitumen juga terjadi di batupasir yang tidak
terkonsolidasi dikenal sebagai “pasir minyak” di Alberta, Kanada, dan sejenisnya
“tar pasir” di Utah, AS. Provinsi Kanada Alberta memiliki sebagian dari
cadangan dunia aspal alam, dalam tiga deposito besar yang meliputi 142.000
kilometer persegi (55.000 sq mi), area yang lebih besar dari Inggris atau
negara bagian New York . Ini pasir bituminous berisi 166 miliar barel
(26,4 × 10 9 m 3) cadangan minyak komersial didirikan,
memberikan Kanada terbesar ketiga cadangan minyak di dunia. dan
menghasilkan lebih dari 2,3 juta barel per hari (370 × 10 3 m 3 /
d) dari minyak mentah berat dan minyak mentah sintetis . Meskipun secara
historis itu digunakan tanpa pemurnian untuk membuka jalan, hampir semua aspal
sekarang digunakan sebagai bahan baku untuk kilang minyak di Kanada dan Amerika
Serikat.
Komentar
Posting Komentar