PENJELASAN DETAIL TERKAIT BAHAN AGREGAT 1. BAHAN JALAN 2.JENIS-JENIS PENGUJIAN BAHAN AGREGAT 3. GRADASI AGREGAT


PENJELASAN DETAIL TERKAIT BAHAN AGREGAT
1. BAHAN JALAN
2.JENIS-JENIS PENGUJIAN BAHAN AGREGAT
3. GRADASI AGREGAT

1.JENIS AGREGAT
Agregat atau batu, atau granular material adalah material berbutir yang keras dan kompak. Istilah agregat mencakup antara lain batu bulat, batu pecah, abu batu, dan pasir. Agregat mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkerasan jalan, karena agregat merupakan komponen utama dari lapis perkerasan jalan. Daya dukung perkerasan jalan ditentukan sebagian besar oleh karakteristik agregat yang digunakan. Pemilihan agregat yang tepat dan memenuhi persyaratan akan sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan atau pemeliharaan jalan.


a)         Berdasarkan proses pembentukannya/asal kejadiannya terdapat 3 kelompok agregat/batuan yaitu batuan beku (igneous rock), batuan sedimen (sedimentary rock), dan batuan malihan (metamorphic rock).
·         Batuan Beku.
 Batuan Beku berasal dari magma yang mendingin dan memadat. Pada dasarnya ada 2 jenis batuan beku yaitu : - Batuan Beku dalam. - Batuan Beku Luar. Batuan Beku dalam terbentuk dari magma yang terjebak dalam patahan kulit bumi dan keudian mendingin dan membeku membentuk suatu struktur kristal. Oleh sebab itu batuan jenis ini banya dijumpai dalam bentuk dan penampakan kristalin. Contoh dari batuan ini adalah granit, diorit dan gabro. Proses pergeseran kulit bumi dan erosi menyebabkan terangkutnya atau keluarnya batuan beku dalam ini ke permukaan sehingga batuan ini bisa ditambang dan digunakan. Batuan Beku luar terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan bumi selama akitivitas erupsi vulkanis dan aktivitas geologi lainnya. Karena berada di daerah terbuka, maka magma ini cepat mendingin dan membentuk struktur penampakan batuan seperti kaca, contohnya kaolit, andesit, obsidian, batu apung dan basal.



·         Batuan sedimen.
 Batuan ini terbentuk dari endapan sedimen (partikel halus) dalam air. Batuan sedimen ini dapat berupa butiran atau fragmen mineral (contohnya pasir ataupun pasir kelempungan), bekas jasad binatang (contohnya batuan kapur), bekas tanaman (contohnya batu bara). Batuan sedimen dapat juga terbentuk dari produk akhir dari reaksi kimia atau penguapan (contohnya garam dan gipsum) atau kombinasi dari jenis material ini. Ada 2 istilah yang dipakai pada batuan sedimen yaitu batuan silika dan karbonat. Batuan sedimen silika adalah batuan sedimen yang banyak mengandung silika sedangkan batuan sedimen yang banyak mengandung kalsium karbonat disebut batuan sedimentasi karbonat. Berdasarkan cara terbentuknya batuan sedimen dapat dibagi 3, yaitu :
 - Batuan sedimen yang terbentuk secara mekanik, seperti konglomerat, breksi, batu pasir, batu lempung. Batuan ini termasuk batuan sedimen silika.
- Batuan sedimen yang terbentuk secara kimiawi, seperti batu gamping , garam dan gipsum.
 - Batuan sedimen yang terbentuk secara organis, seperti batu bara, batu gamping dan opal.



·         Batuan metamorpik atau malihan.
 Batuan metamorpik atau dikenal juga dengan nama batuan malihan berasal dari batuan sedimen atau batuan beku yang telah mengalami perubahan karena tekanan dan panas yang intensif di dalam bumi atau akibat reaksi kimia yang kuat. Karena kompleksnya proses pembentukan formasi batuan ini, maka agak sulit untuk menentukan bentuk asli dari batuannya. Beberapa jenis dari batuan metamorpik memiliki suatu sifat yang berbeda dengan susunan mineral yang berbentuk lapisan atau bidang. Membelah batuan jenis ini sepanjang arah bidang belahnya adalah lebih mudah dari pada membelahnya dalam arah lainnya. Batuan metamorpik yang memiliki jenis struktur seperti ini disebut batuan berlapis (berfoliasi). Contoh dari batuanberfoliasi adalah skis dan flit (terbentuk dari material batuan beku) dan shale (terbentuk dari material batuan sedimentasi).
Tidak semua batuan metamorpik memiliki sifat foliasi. Batuan marmer (terbentuk dari batuan kapur) dan batuan kwarsit (terbentuk dari batu pasir) adalah jenis umum dari batuan metamorpik tanpa foliasi. Batuan seperti ini disebut juga batuan metamorpik yang masif.


Ø  Berdasarkan sumbernya
Batuan atau agregat untuk campuran beraspal umumnya diklasifikasikan berdasarkan sumbernya, yaitu agregat alam, agregat hasil pemrosesan, dan agregat buatan atau agregat artifisial.
a.  Agregat alam (natural aggregates).
Agregat alam adalah agregat yang digunakan dalam bentuk alamiahnya dengan sedikit atau tanpa pemrosesan sama sekali. Agregat ini terbentuk dari proseserosi alamiah atau proses pemisahan akibat angin, air, pergeseran es, dan reaksi kimia.
Aliran gletser dapat menghasilkan agregat dalam bentuk bongkahan bulat dan batu kerikil, sedangkan aliran air menghasilkan batuan yang bulat licin.
Dua jenis utama dari agregat alam yang digunakan untuk perkerasan jalan adalah pasir dan kerikil. Jika diklasifikasikan berdasarkan besarnya butiran maka yang disebut kerikil didefinisikan sebagai agregat yang berukuran lebih besar 6,35 mm. Pasir didefinisikan sebagai partikel yang lebih kecil dari 6,35 mm tetapi lebih besar dari 0,075 mm. Sedangkan partikel yang lebih kecil dari 0,075 mm disebut sebagai mineral pengisi (filler).
 Pasir dan kerikil selanjutnya diklasifikasikan menurut sumbernya. Material yang diambil dari tambang terbuka (open pit) dan digunakan tanpa proses lebih lanjut disebut material dari tambang terbuka (pit run materials) dan bila diambil dari sungai (steam bank) disebut material sungai (steam bank materials).
Deposit batu koral memiliki komposisi yang bervariasi tetapi biasanya mengandung pasir dan lempung. Pasir pantai terdiri atas partikel yang agak seragam, sementara pasir sungai sering mengandung koral, lempung dan lanau dalam jumlah yang lebih banyak.
b.  Agregat yang diproses.
Agregat yang diproses adalah batuan yang telah dipecah dan disaring sebelum digunakan. Pemecahan agregat dilakukan karena tiga alasan : untuk merubah tekstur permukaan partikel dari licin ke kasar, untuk merubah bentuk partikel dari bulat ke angular, dan untuk mengurangi serta meningkatkan distribusi dan rentang ukuran partikel. Untuk batuan krakal yang besar, tujuan pemecahan batuan krakal ini adalah untuk mendapatkan ukuran batu yang dapat dipakai, selain itu juga untuk merubah bentuk teksturnya.
 Penyaringan yang dilakukan pada agregat yang telah dipecahkan akan menghasilkan partikel agregat dengan rentang gradasi tertentu. Mempertahankan gradasi agregat yang dihasilkan adalah suatu faktor yang penting untuk menjamin homogenitas dan kualitas campuran beraspal yangdihasilkan. Untuk alasan ekonomi, pemakaian agregat pecah yang diambil langsung dari pemecah batu (tanpa penyaringan atau dengan sedikit penyaringan) dapat dibenarkan. Kontrol yang baik dari operasional pemecahan menentukan apakah gradasi agregat yang dihasilkan memenuhi spesifiikasi pekerjaan atau tidak. Batu pecah (baik yang disaring atau tidak) disebut agregat pecah dan memberikan kualitas yang baik bila digunakan untuk konstruksi perkerasan jalan.
 c. Agregat buatan.
Agregat ini didapatkan dari proses kimia atau fisika dari beberapa material sehingga menghasilkan suatu material baru yang sifatnya menyerupai agregat. Beberapa jenis dari agregat ini merupakan hasil sampingan dari proses industri dan dari proses material yang sengaja diproses agar dapat digunakan sebagai agregat atau sebagai mineral pengisi (filler).
Slag adalah contoh agregat yang didapat sebagai hasil sampingan produksi. Batuan ini adalah substansi nonmetalik yang timbul ke permukaan dari pencairan/peleburan logam atau biji besi selama proses peleburan. Pada saat menarik besi dari cetakan, slag ini akan pecah menjadi partikel yang lebih kecil baik melalui perendaman ataupun memecahkannya setelah dingin.
Pembuatan agregat buatan secara langsung adalah sesuatu yang relatif baru. Agregat ini dibuat dengan membakar batuan shilt atau tanah liat dan material lainnya. Produk akhir yang dihasilkan biasanya agak ringan dan tidak memiliki daya tahan terhadap keausan yang tinggi. Agregat buatan dapat digunakan untuk dek jembatan atau untuk perkerasan jalan dengan mutu sebaik lapisan permukaan yang mensyaratkan ketahanan gesek maksimum.
Ø  Sifat-sifat fisik agregat
Pada campuran beraspal, agregat memberikan kontribusi sampai 90-95% terhadap berat campuran, sehingga sifat-sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu dari kinerja campuran tersebut. Sifat sifat fisik/mekanik dalam campuran beraspal diperoleh dari friksi dan kohesi dari bahan pembentuknya. Friksi agregat diperoleh dari ikatan antar butir agregat yang saling mengunci (interlocking) dan kekuatannya
tergantung pada ukuran butir maupun sifat fisik agregat lainnya. Adapun sifat sifat agregat yang mempengaruhi kinerja campuran beraspal adalah :
a. Ukuran butir.
b. Gradasi.
c. Kebersihan.
d. Kekerasan.
e. Bentuk partikel.
f. Tekstur permukaan.
g. Penyerapan.
h. Kelekatan terhadap aspal.
 a. Ukuran butir.
 Ukuran agregat dalam suatu campuran beraspal terdistribusi dari yang berukuran besar sampai ke yang kecil. Semakin besar ukuran maksimum agregat yang dipakai semakin banyak variasi ukurannya dalam campuran tersebut. Ada dua istilah yang biasanya digunakan berkenaan dengan ukuran butir agregat, yaitu :
 - Ukuran maksimum, yang didefinisikan sebagai ukuran saringan terkecil yang meloloskan 100% agregat.
 - Ukuran nominal maksimum, yang didefinisikan sebagai ukuran saringan terbesar yang masih menahan maksimum dari 10% agregat.
Contoh berikut ini mengilustrasikan perbedaan keduanya : Hasil analisa saringan menunjukkan bahwa 100% lolos saringan 25 mm. Agregat paling kasar tertahan pada saringan 19 mm.
Dalam hal ini ukuran maksimum agregat adalah 25 mm dan ukuran nominal maksimumnya adalah 19 mm. Istilah-istilah lainnya yang biasa digunakan sehubungan dengan ukuran agregat yaitu :
 - Agregat kasar : adalah Agregat yang tertahan saringan No. 8 (2,36 mm) pada campuran beraspal atau agregat tertahan saringan No. 4 (4,76 mm) pada lapis pondasi.
 - Agregat halus : adalah Agregat yang lolos saringan No. 8 (2.36 mm) pada campuran beraspal atau agregat yang lolos saringan No. 4 (4,76 mm) pada lapis pondasi.
- Mineral pengisi : Fraksi dari agregat halus yang lolos saringan No. 200 (0.075 mm) minimum 75% terhadap berat total agregat.
 - Mineral abu : Fraksi dari agregat halus yang 100% lolos saringan No. 200 (0.075 mm).
 Mineral pengisi dan mineral abu dapat terjadi secara alamiah atau dapat juga dihasilkan dari proses pemecahan batuan atau dari proses buatan. Mineral ini penting artinya untuk mendapatkan campuran yang padat, berdaya tahan dan kedap air. Walaupun begitu, kelebihan atau kekurangan sedikit saja dari mineral ini akan menyebabkan campuran terlalu kering atau terlalu basah. Perubahan sifat campuran ini bisa terjadi hanya karena sedikit perubahan dalam jumlah atau sifat dari bahan pengisi atau mineral debu yang digunakan. Oleh karena itu, jenis dan jumlah mineral pengisi atau debu yang digunakan dalam campuran haruslah dikontrol dengan seksama.



2.JENIS-JENIS PENGUJIAN BAHAN AGREGAT
1. PENGUJIAN AGREGAT, ASPAL DAN ASBUTON
 UmumTahap awal dalam pelaksanaan pekerjaan perkerasan beraspal dengan menggunakan asbuton adalah perlu mengetahui kualitas bahan yang akan digunakan, apakah memenuhi persyaratan atau tidak.Jadi keberhasilan pelaksanaan pekerjaan perkerasan beraspal dengan menggunakan asbuton sangat tergantung terhadap kualitas agregat, aspal dan Asbuton yang digunakan
·         JENIS DAN PERALATAN PENGUJIAN AGREGAT
Peralatan Uji Agregat adalah:Alat pembagi contoh agregat (spliter).Alat saringan lengkap, dengan ukuran sesuai gradasi agregat yang dipilihAlat untuk menguji berat Jenis semu dan berat Jenis bulkAlat pemeriksaan keausan dengan mesin abrasiAlat pengujian setara pasir (sand equivalent) lengkapAlat untuk pemeriksaan gumpalan lempung dan butiran yang mudah pecahAlat untuk pemeriksaan daya lekat agregat terhadap aspal (affinity)Alat untuk pengujian angularitas agregat halus dan kasarAlat untuk pemeriksaan kepipihan dan kelonjongan agregatAlat untuk pengujian partikel ringan dalam agregat
·         Jenis Pengujian Agregat
METODEPengujian keausan agregat dengan mesin abrasi Los Angeles.SNIPengujian jumlah bahan dalam agregat yang lolos saringan No. 200 (0,075 mm).SNIPengujian tentang analisis saringan agregat halus dan kasar.SNIPengujian agregat halus atau pasir yang mengandung bahan plastis dengan cara setara pasir.SNIPengujian Berat Jenis agregat kasar.SNIPengujian Berat Jenis agregat halus.SNIPengujian kelekatan agregat terhadap aspal.SNIAngularitas agregat kasarSNIPartikel Pipih dan LonjongRSNI TAngularitas agregat halusPenyiapan benda uji contoh agregatSNIPengambilan contoh agregatSNI
·         JENIS DAN PERALATAN PENGUJIAN ASPAL DAN ASBUTON
Peralatan Uji Aspal dan Asbuton adalah:Alat pengambilan contoh bahan bitumenAlat uji titik nyala dengan Cleveland Open CupAlat ekstraktor reflux untuk pemisahan mineral dengan bitumen asbutonAlat saringan bahan berbutir lengkapAlat untuk pemulihan aspal (recovery)Alat uji penetrasi bahan bitumenAlat uji untuk pengujian titik lembekAlat untuk pengujian daktilitas bahan bitumenViskometer yaitu alat untuk pengujian kekentalanSaybolt Furol yaitu alat untuk pengujian viskositas kinematikAlat untuk pengujian titik nyala Tag Open CupDestilator yaitu alat penyulinganAlat untuk pengujian kadar airgelas ukur, pengaduk, wadah, saringan no.14 dan oven
·         Jenis Pengujian Aspal 1. Jenis Pengujian Aspal Keras JENIS PENGUJIAN
METODE1. PenetrasiSNI2. Titik lembekSNI3. DaktilitasSNI4. Kelarutan dalam C2HCl3SNI5. Titik nyalaSNI6. Berat JenisSNI7. Kehilangan beratSNI8. Penetrasi setelah kehilangan berat9. Daktilitas setelah kehilangan berat10. Titik lembek setelah RTFOT11. Temperatur pencampuran dan pemadatanSNI12. Kadar airSNI
 2. Jenis Pengujian Bitumen Asbuton Murni
NO.JENISPENGUJIANMETODE1.Penetrasi, 25 oC; 100 gr; 5 dctik; 0,1 mmSNI2.Titik Lembek, oCSNI3.Titik Nyala, oCSNI4.Daktilitas; 25 oC, cmSNI5.Berat jenisSNI6Kelarutan dalam Trichlor Ethylen; % beratRSNI M7.Penurunan Berat (dengan TFOT), %beratSNI8Penetrasi setelah penurunan berat, % asli9Daktilitas setelah penurunan berat, cm
 3. Jenis Pengujian Asbuton Modifikasi
NO.JENISPENGUJIANMETODE1.Penetrasi, 25 ‘C; 100 gr; 5 dctik; 0,1 mmSNI2.Titik Lembek, °CSNI3.Titik Nyala, °CSNI4.Daktilitas; 25 °C, cmSNI5.Berat jenisSNI6.Kelarutan dalam Trichlor Ethylen, % beratRSNI M7.Penurunan Berat (dengan TFOT), % beratSNI8.Penetrasi setelah kehilangan berat, % asli9.Daktilitas setelah TFOT, cm10Mineral Lolos Saringan No. 100, % *SNI
 4. Jenis Pengujian Peremaja Hangat
NO.JENISPENGUJIANMETODA1.Viskositas: - pada 60 oC (cSt)- atau 100 oC,(dtk)AASHTO T-722.Kelarutan dlm TCE, (%)SNI3.Titik nyala, (oC)AASHTO T-734.Berat Jenis,SNI5.Penurunan berat (TFOT), (% terhadap berat awal)SNI6.Kadar parafin lilin, (%)SNI5. Jenis Pengujian Asbuton ButirNO.JENISPENGUJIANMETODA PENGUJIAN1.Ekstraksi Kadar bitumen asbuton; %SNI2.Ukuran butir asbuton butir Saringan No 8 (2,36 mm) dan Saringan No 16 (1,18 mm);SNI3.Kadar air, %SNI4.Penetrasi bitumen asbuton pada 25 °C, 100 g, 5 detik; 0,1 mmSNI
·         Peralatan untuk pengujian campuran beraspal
Peralatan pengujian campuran mencakup:Alat pembuat briket, yaitu alat pemadat campuranSatu unit alat pengujian MarshallAlat pengeluar briket hasil pemadatan (extruder)Bak penangas air (waterbath)Oven dengan pengatur temperaturAlat uji berat jenis campuran maksimum (Gmm) lengkap
·         METODE PENGAMBILAN CONTOH (SAMPLING)
PENGUJIAN AGREGATMETODE PENGAMBILAN CONTOH (SAMPLING)1. Pengambilan Contoh Agregat Dari TimbunanLangkah pengambilan contohTentukan tempat pengambilan contoh agregat pada tempat penimbunan dan masukkan papan kedalam timbunan diatasnya dengan tegak.Buang agregat pada daerah miring dibawah papan hingga diperoleh tempat yang rata dan datar untuk pengambilan contoh.Masukkan sekop kedalam bagian yang datar dan pindahkan satu sekop penuh agregat kedalam ember, lakukan dengan hati-hati, cara-cara pengambilan contoh agregat dari timbunanUlangi langkah tersebut untuk tiga tempat lokasi pengambilan contoh bahan pada tempat penimbunan.
2. Pengambilan Contoh Agregat Dari Bin Panas (Hot Bin)
Langkah pengambilan contohContoh agregat panas untuk setiap fraksi diambil dari masing-masing bin panas (hot bin) yang telah dilengkapi dengan fasilitas untuk pengambilan contoh.Ambil contoh agregat dari setiap bin dan ratakan kelebihan agregat bagian atas kotak.Sekitar tiga atau empat kali jumlah agregat yang diperlukan, diambil dari setiap bin dan dimasukkan kedalam kontainer contoh agregat.Pengambilan contoh agregat dari hot bin, dengan cara menjatuhkan agregat melalui kotak penimbang dan pugmill kedalam truk, atau menempatkan shovel di bawah lubang curahan, merupakan metode yang tidak teliti dalam pengambilan contoh agregat dan tidak boleh digunakan.
·         PENGUJIAN ANALISA UKURAN BUTIR (GRADASI)
Berat Contoh Minimum Untuk Analisa GradasiUKURAN AGREGAT NOMINAL MAKSIMUMBERAT CONTOHKG (LB)2,36 mm (No.8)10 (25)4,75 mm (No.4)9,5 mm (3/8 in.)12,5 mm (1/2 in.)15 (35)19,0 mm (3/4 in.)25 (55)25,0 mm (1 ½ in.)50 (110)37,5 mm (1 ½ in.)75 (165)50,0 mm (2 in.)100 (220)
·         PENGUJIAN BERAT JENIS AGREGAT HALUS
Material yang akan diuji adalah agregat lolos saringan No. 8 (2,38 mm)Agregat harus dalam kondisi kering udaraLangkah pengujianContoh direndam dalam pan selama semalamTiriskan air yang berlebih (Filler jangan terbuang), kemudian diangin-angin sampai kondisi kering permukaan jenuh, cek kondisi tersebut dengan kerucut SSDBila sudah pada kondisi SSD, timbang contoh tersebut seberat 500 gram untuk setiap pengujianMasukkan contoh kedalam picknometer yang telah ditera sebelumnya dan tambahkan air hingga contoh terendamKeluarkan udara yang terperangkap dengan alat Vacuum Pump, llihat skala manometer harus menunjukkan angka 730 mm HgBiarkan selama 15 menit sambil sesekali diguncang-guncangMatikan vacuum pump kemudian tambahkan air sampai batas tera pada leher tutup picknometer dan timbangTuangkan contoh dan air dari picknometer kedalam pan yang terbuat dari logam, oven pada temperatur 110 ° ± 5 ° C sampai berat konstanDinginkan hingga mencapai temperatur ruang kemudian ditimbang
·         PENGUJIAN BERAT JENIS AGREGAT KASAR
Material yang akan diuji adalah agregat yang tertahan saringan No. 8 (2,38 mm)Agregat harus dalam keadaan kering dan bersihLangkah pengujianContoh direndam dalam pan selama semalamTimbang contoh dalam air (pada waktu penimbangan contoh harus selalu terendam)Keluarkan contoh dari keranjang timbang kemudian dilap hingga mencapai kondisi kering permukaan jenuh (SSD), kemudian dioven pada suhu 110 ± 5 ° C sampai beratnya konstanDinginkan hingga mencapai suhu ruang, kemudian timbang
·         PENGUJIAN SETARA PASIR (SAND EQUIVALENT) AGREGAT HALUS
Persiapkan agregat yang lolos saringan No. 4 (4,76 mm)Agregat harus dalam keadaan keringLangkah pengujianTuangkan larutan calsium Chloride kedalam silinder plastik sampai skala 5 (101,6 ± 2,5 ml)Masukkan contoh uji kedalam silinder plastik yang sudah diisi larutan calsium chlorideDiamkan selama 10 menitSilinder plastic yang berisi contoh dan larutan setelah 10 menit, dikocok secara mendatar sebanyak 90 kali selama 30 detikSetelah dikocok tambahkan larutan calsium chloride sampai skala 15 (381 ml)Diamkan selama 20 menit ± 15 detikSetelah 20 menit, terjadi pengendapan, baca skala lumpurMasukkan beban dan baca skala bebanHitung nilai Sand Equivalent (SE)
 a. Tabung berskala b. Penuangan c. Pembilasan d. Pembacaan
dan pembilas contoh pasir
·         PENGUJIAN KEAUSAN AGREGAT KASAR DENGAN MESIN ABRASI LOS ANGELES
Cuci agregat hingga bersih kemudian oven pada suhu 110 ° ± 5 ° C selama semalam/sampai berat konstanDinginkan hingga mencapai suhu ruang, kemudian timbang sebanyak yang diperlukan/ sesuai grading yang digunakanLangkah pengujianMasukkan benda uji kedalam tabung uji/silinder abrasiTambahkan bola-bola baja sesuai grading yang digunakanPasang tutup silinder dan kencangkan, jangan sampai ada benda uji yang keluar pada saat pengujian berlangsungSetel/atur counter sesuai jumlah putaran yang diinginkanSetelah selesai, keluarkan benda uji dari dalam tabung/silinder uji, kemudian saring dengan saringan No. 12Cuci benda uji yang tertahan saringan No. 12 kemudian oven pada suhu 110 ± 5 ° C sampai berat konstanDinginkan hingga mencapai suhu ruang kemudian timbang
·         PENGUJIAN PARTIKEL PIPIH DAN LONJONG
Langkah PengujianPengujian dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :Berdasarkan berat, benda uji sebelumnya dikeringkan dalam oven pada temperatur (110 ± 5)oC sampai beratnya tetapBerdasarkan jumlah butiran, pengeringan agregat tidak diperlukanPengujian kepipihan agregat dan kelonjongan agregatPengujian kepipihan agregatGunakan alat jangkar ukur rasio (Proportional caliper device) pada posisinya dengan perbandingan yang sesuai.Atur bukaan yang besar sesuai dengan lebarnya butiran.Butiran adalah pipih, jika ketebalannya dapat ditempatkan dalam bukaan yang lebih kecil.Bentuk agregat (kasar) berbentuk pipih, dinyatakan dengan persen berat butiran yang pipih per berat total butiran.Atau dapat dinyatakan dengan nilai rata-rata kepipihan, yaitu persen nilai rata-rata kepipihan per total persen butiran.
·         PENGUJIAN PARTIKEL PIPIH DAN LONJONG
Pengujian kelonjongan agregatGunakan alat jangkar ukur rasio pada posisinya dengan perbandingan yang sesuai.Atur bukaan yang besar sesuai dengan panjangnya butiran.Butiran adalah lonjong, jika ketebalannya dapat ditempatkan dalam bukaan yang lebih kecil.Bentuk agregat (kasar) berbentuk lonjong, dinyatakan dengan persen berat butiran yang lonjong per berat total butiran.Atau dapat dinyatakan dengan nilai rata-rata kelonjongan, yaitu nilai rata-rata kelonjongan per total persen butiran.Pengujian pipih dan lonjong agregatButiran adalah pipih dan lonjong, jika ketebalannya dapat ditempatkan dalam bukaan yang lebih kecil.Bentuk agregat (kasar) berbentuk pipih dan lonjong, dinyatakan dengan persen berat butiran yang pipih dan lonjong per berat total butiran.Atau dapat dinyatakan dengan nilai rata-rata kepipihan dan kelonjongan per total persen butiran.
·         Pengujian butiran berbentuk lonjong (panjang terhadap lebar)
Pengujian butiran berbentuk pipih (lebar terhadap tebal)
·         PEMERIKSAAN DAYA LEKAT AGREGAT TERHADAP ASPAL (AFFINITY)
Persiapkan benda uji agregat lolos saringan 9,5 mm (3/8 in.) dan tertahan saringan 6,3 mm (1/4 in.).Contoh tersebut harus dalam keadaan kering ovenLangkah PengujianMasukkan 100 gram benda uji kedalam wadah.Isi aspal sekitar 5,5 gram yang telah dipanaskan pada temperatur sesuai.Aduk aspal dan benda uji sampai merata selama 2 menit.Masukkan adukan beserta wadahnya dalam oven pada temperatur 60°C selama 2 jam.Keluarkan adukan beserta wadahnya dari oven dan diaduk kembali sampai dingin.Pindahkan adukan kedalam tabung gelas kimia.Isi dengan air suling sebanyak 400 ml kemudian diamkan pada temperatur ruang selama 16 sampai 18 jam.Perkirakan prosentase luas permukaan yang masih terselimuti aspal
·         PENGUJIAN ANGULARITAS AGREGAT KASAR
Siapkan benda uji agregat lolos saringan No.4 (4.76 mm)Contoh tersebut harus dalam keadaan kering ovenLangkah pengujianSiapkan agregat yang telah dicuci dan kering tertahan saringan 4,75 mm (No.4) kurang-lebih 500 gram.Pisahkan agregat diatas saringan 4,75 mm dan singkirkan agregat lolos saringan 4,75 mm, kemudian ditimbang .Seleksi dan timbang agregat
·         PENGUJIAN ANGULARITAS AGREGAT HALUS
Persiapkan benda uji agregat lolos saringan 2,36 mm (No.8).Contoh tersebut harus dalam keadaan keringLangkah pengujianSiapkan agregat yang telah dicuci dan kering tertahan saringan 2,36 mm (No.8), kurang-lebih 500 gram.Siapkan benda uji agregat halus, cuci dan keringkan, kemudian dituangkan melalui corong standar dengan tinggi dan jarak tertentu, kedalam silinder dengan volume tertentu (V).Timbang benda uji agregat halus yang mengisi volume silinder (W).Tentukan Berat Jenis curah agregat halus (Gsb) yang akan digunakan untuk menghitung volume agregat halus (W/Gsb).
·         Silinder dng.Volume yang telah diukur
Corong StandarContoh Agregat HalusKerangkaSilinder dng.Volume yang telah diukurHitung rongga udara dengan rumus berikut ini :V – (W/Gsb)x100%V
·         METODE PENGAMBILAN CONTOH ASPAL
PENGUJIAN ASPALMETODE PENGAMBILAN CONTOH ASPAL(SAMPLING)1. Pengambilan Contoh Aspal Dari Mobil TangkiContoh yang akan diambil sudah tersedia pada mobil tangki dengan kondisi cair dan dapat dialirkan melalui keran pengeluar.Langkah pengambilan contohAspal diambil dari keran tangki yang dilengkapi keran.Sebelum pengambilan contoh dilakukan, keluarkan 4 liter dan buang.Contoh aspal cair dan aspal yang dicairkan melalui pemanasan harus diambil dengan metode celup menggunakan kaleng.Banyaknya contoh yang harus disiapkan, untuk pengujian rutin aspal keras 1 liter dan untuk aspal emulsi 4 liter.
·         Jumlah contoh yang dipilih secara acak
2. Pengambilan Contoh Aspal Dari DrumContoh aspal yang akan diambil sudah tersedia pada drum dengan kondisi liquid atau cair (untuk aspal cair).Langkah pengambilan contohAspal diambil dari drum dengan menggunakan alat yang sedapat mungkin tidak dipanaskan terlebih dahulu, untuk menghindari rusaknya aspal akibat pemanasan berulang.Lakukan pemilihan drum yang berisi aspal yang akan diambil secara acak, dengan jumlah drum terpilih seperti diperlihatkan pada Tabel 3.2.Setelah pengadukan secara sempurna dilakukan pengambilan contoh sebanyak 1 liter dari drum terpilih.Jumlah contoh yang dipilih secara acakJumlah drumYang diipilh2 –89 – 2728 – 6465 – 125126 – 216217 – 343344 – 512513 – 729730 – 10002 3 4 5 6 7 8 9 10 11
·         PENGUJIAN PENETRASI ASPAL
Tuang contoh uji aspal ke kap penetrasi, diamkan jam pada temperatur ruangRendam dalam bak air 25 oC, selama jamBersihkan jarum penetrasi dan pasangLetakkan pemberat 50 gr pada pemegang jarum sehingga berat total menjadi 100 gramPindahkan contoh uji berikut cup penetrasi ke dalam bak berisi air dengan temperatur 25oC di bawah alat penguji penetrasi.Langkah pengujianAtur jarum hingga bertemu dengan permukaan benda uji (aspal).Lepaskan jarum selama 5 + 0,1 detik.Tekan penunjuk penetrometer dan baca angka penetrasinya.Angkat jarum perlahan-lahan, lakukan pengujian paling sedikit 3 kali pada contoh uji yang sama.
·         PENGUJIAN TITIK LEMBEK ASPAL
Panaskan aspal gr hingga cairLetakkan 2 buah cincin di atas pelat kuningan yang telah diolesi talk-gliserolTuang contoh ke dalam cincin cetakan, diamkan pada temperatur ruang selama 30 menit.Ratakan permukaan contoh dengan pisau.Pasang kedua benda uji ,Masukkan pada bejana gelas berisi air suling bertemperatur oCPasang termometer khusus untuk penentuan titik lembekLetakkan bola baja di atas benda ujiRendam di dalam air pada temperatur 5 oC selama 15 menitLangkah pengujianPanaskan bejana dengan kenaikan temperatur air 5oC/menit,Atur kecepatan pemanasan untuk 3 menit pertama 5 oC + 0,5 /menitCatat temperatur yang ditunjukkan saat bola baja jatuh
·         PENGUJIAN DAKTILITAS ASPAL
Panaskan aspal hingga cairLapisi cetakan dengan gliserin pasanglah cetakan daktilitas pada dasar platTuang bahan uji dalam cetakan dari ujung ke ujung hingga penuh.Dinginkan cetakan pada temperatur ruang menit, dan ratakanRendam di dalam bak perendam dengan temperatur 25oC, 30 menitLangkah pengujianLepaskan benda uji dari plat dasar dan sisi -sisi cetakan. Pasang benda uji pada mesin uji dan tarik dengan kecepatan 5 cm per menit sampai benda uji putus.Bacalah jarak antara pemegang benda uji saat benda uji putus (cm).
·         PENGUJIAN KEKENTALAN ASPAL KERAS
Panaskan alat pengujian pada temperatur 120oC.Masukkan benda uji yang telah dipanaskan pada 120oC kedalam tabung viskometerLangkah pengujianBuka gabus penyumbat tabung dan lakukan pengujian pada beberapa temperatur yang berbeda (135oC, 150oC, 165oC, 180oC dan 200oC).Konversikan waktu (detik) yang diperoleh dengan kekentalan kinematik (cSt).Buat grafik antara temperatur dan kekentalan untuk menghasilkan temperatur pencampuran pada temperatur 170 ± 30 cst dan temperatur pemadatan pada 280 ± 30 cst.
·         PENGUJIAN TITIK NYALA ASPAL DAN BAHAN BITUMEN
Panaskan contoh aspal keras atau aspal cair jenis menguap lambat gr pada 140oC sampai cukup cair.Isilah cawan Cleaveland atai TOC sampai garis batas dan hilangkan gelembung udara Letakkan cawan di atas plat pemanas, atur letak sumber panasLetakkan nyala penguji, gantungkan termometer diatas dasar cawan. Atur posisi termometerTempatkan penahan angin, nyalakan sumber pemanas, atur hingga kenaikan temperatur oC/menit sampai mencapai temperatur 56 oC di bawah titik nyala perkiraan.Langkah pengujianAtur kecepatan pemanasan oC/menit pada temperatur antara 56 oC dan 28oC di bawah titik nyala perkiraan. Nyalakan nyala penguji dan atur diameter nyala pengujiPutar nyala penguji hingga melalui permukaan cawan (dari tepi ke tepi cawan) dalam waktu 1 detik, Ulangi setiap kenaikan 2oC sampai terlihat nyala singkat pada permukaan aspal, baca temperatur pada termometer dan catatLanjutkan pengamatan sampai terlihat nyala di atas permukaan benda uji yang lebih lama minimal 5 detik , baca dan catat temperatur pada termometer.
·         PENGUJIAN KADAR AIR Timbang contoh aspal.
Pasang rangkaian penguji kadar air dari aspal, reflux kondensor hubungkan dengan tabung penerimaMasukkan contoh aspal berikut bahan pengikat air (xylol atau campuran xylol dan toluol) ke dalam labu.Langkah pengujianPanaskan labu berisi contoh uji dan pengikat air sehingga air dalam tabung penerima tidak bertambah lagi.Baca jumlah air yang tertampung dalam tabung penerima.Kadar air adalah perbandingan antara volume air dalam tabung penerima dengan berat benda uji semula.
·         PENGUJIAN KELARUTAN ASPAL DAN BAHAN BITUMEN
Tempatkan fiber glas atau asbestos ke dasar cawan gooch dan padatkanKeringkan cawan gooch dan isinya dalam oven 110oC , 20 menit.Dinginkan cawan gooch dan isinya dalam desikator ,20 menitTimbang cawan gooch dan isinya berulang sampai berat konstanLangkah pengujianMasukkan kira-kira 2 gram benda uji aspal ke dalam Labu Erlenmeyeryang sudah ditimbang dan diamkan pada temperature ruang dantimbangTambahkan 100 ml trichloroethylene ke dalam labu dan goyang 15 menitSiapkan cawan gooch di atas tabung penyaring dan basahi fiber glas atauasbestos dengan sedikit pelarutSaring larutan melalui saringan fiber glas atau asbestos dalam cawan goochKeringkan cawan gooch dan isinya pada temperature 110oC, 20 menitDinginkan gooch di dalam desikator, 20 menit dan timbang
·         PENGUJIAN BERAT JENIS ASPAL KERAS
Timbang piknometer dalam keadaan bersih dan keringIsi bejana dengan air suling hingga bagian atas, kemudian rendam dalam bak perendam pada temperatur ruang, kemudian diangkat.Isi piknometer dengan air suling dan tutup, kemudian tempatkan piknometer ke dalam bejana, rendam kembali bejana berisi piknometer ke dalam bak perendam selama tidak kurang dari 30 menit.Angkat piknometer berisi air suling dan keringkan, kemudian timbangLangkah pengujianTuangkan benda uji yang telah dipanaskan hingga cukup cair ke dalam piknometer yang telah kering hingga terisi ¾ bagian dan biarkan piknometer sampai dingin selama tidak kurang dari 40 menit, kemudian timbang dengan ketelitian 1 mgSelanjutnya isilah piknometer yang berisi benda uji dengan air suling dan tutupAngkatlah bejana dari bak perendam dan tempatkan piknometer di dalamnya, kemudian masukkan dan diamkan bejana ke dalam bak perendam selama kurang dari 30 menit, angkat dan keringkan, lalu timbang piknometer berisi aspal dan air suling (=D)Berat jenis aspal, dinyatakan dengan rumus :BJ = (C- Ap) / {( Bw - Ap)-(D-C)}dimana :Ap = Berat piknometer dengan penutupnya (gram)Bw = Berat piknometer berisi air suling (gram)C = Berat piknometer berisi aspal (gram)D = Berat piknometer berisi aspal dan air suling (gram)
·         PENGUJIAN KEHILANGAN BERAT MINYAK DAN ASPAL
Panaskan benda uji dan aduk merat sampai cairSebelum pengujian kehilangan berat periksa apakah benda uji mengandung airLangkah pengujianTuangkan benda uji kira-kira (50 ± 0,5) gr ke dalam cawan dan dinginkan, timbang (=A).Tempatkan benda uji diatas pinggan berputar setelah oven mencapai (163 ± 1) oC.Pasang termometer pada dudukannya.Ambil benda uji dari dalam oven setelah mencapai 5 jam sampai 5 jam 15 menit.Dinginkan benda uji pada temperatur ruang, timbang (=B).Kehilangan (penurunan) berat minyak dan aspal dinyatakan dengan persamaan:Penurunan berat = {(A-B) / A} x 100 %
·         PENGUJIAN NODA UNTUK ASPAL KERAS
Masukkan benda uji (aspal) ke dalam labu gelas kapasitas 50 ml, bila benda uji tidak dapat mengalir didasar labu pada temperatur ruang, panaskan labu hingga benda uji tersebar melapisi sera tipis didasar labu, kemudian dinginkan pada temperatur ruang.Masukkan pelarut dengan pipet atau buret sebanyak 10,2 ml, segera tutup dengan gabus yang dilengkapi pipa gelas sepanjang 200 mm, kemudian goyangkan labu dengan gerakan melingkar secara cepat selama 5 detikRendam labu dalam pemanas air yang mendidih sedalam lehernya selama 55 detik hingga berupa cairan yang tipis.Angkat labu dari pemanas dan digoyang selama 5 detik kemudian rendam kembali selama 55 detik dan seterusnya ulangi hingga benda uji benar-benar telah terdispersi. Selanjutnya dinginkan labu serta isinya sampai mencapai temperatur ruang selama 30 menit.Larutan aspal dihangatkan kembali selama 15 menit dalam pemanas air pada temperatur (32 ± 0,5)oC, kemudian aduk dengan menggunakan batang yang bersih teteskan pada kertas saring whatman no. 50.Setelah 5 menit, amati tetesan pada kertas saring tersebut dan catat jenis nodanya.Noda positip, bila tetesan berwarna coklat atau coklat kekuning-kuningan dengan bagian tengah gelap atau berbintik-bintik
Ø  Bila tetesan berbentuk lingkaran berwarna coklat merata, maka lakukan tindakan sebagai berikut :
Simpan labu berisi larutan tersebut dalam keadaan rapat pada temperatur ruang dibawah sinar redup selama 24 jamHangatkan kembali pada temperatur (32 ± 0,5)oC selama 15 menit, kemudian aduk sampai merataTeteskan larutan dan amati, bila masih tetap berwarna coklat merata maka noda tersebut sebagai noda negatip dan bila didapat bagian tengah tetesan berwarna gelap atau berbintik-bintik maka disebut noda positip. Bila masih meragukan, ulangi.Tetesan positipTetesan negatip
Ø  PENGUJIAN VISKOSITAS ASPAL DENGAN ALAT BROOKFIELD TERMOSEL
Siapkan alat termosel sesuai dengan petunjuk operasional termasuk cara pengaturan temperatur dan kalibrasinyaMasukkan benda uji ke dalam tabung sesuai dengan spindel yang digunakanKetinggian cairan harus segaris dengan batang spindel pada garis kira-kira 3,2 mm diatas bagian atas spindel yang meruncing.Langkah pengujianTempatkan tabung berisi benda uji dengan menggunakan alat penjepit ke wadah pemanas, kemudian tempatkan viskometer tepat diatas wadah pemanas.Pasang spindel ke viskometer dan turukan viskometer hingga spindel masuk kedalam benda uji, biarkan aspal sampai mencapai temperatur pengujian yang konstan selama ± 15 menit.Jalankan viskometer sesuai petunjuk operasionalnya, kemudian catat tiga pembacaan setiap 60 detik dari masing-masing temperatur pengujian.Lakukan prosedur yang sama untuk setiap temperatur pengujian yang diinginkan.Kalikan faktor viskositas dengan pembacaan viskometer untuk mendapatkan viskositas dalam centipois (cP)
Ø  PENGUJIAN VISKOSITAS KINEMATIK DENGAN ALAT SAYBOLT FUROL
Bersihkan labu penampung viskometer dengan cairan dan keringkan kemudian sumbat bagian bawah tabung viskometer dengan gabus penutup.Letakkan corong saringan no. 100 di atas tabung viskometer.Tempatkan labu penampung di bawah lubang viskometerAduk benda uji (120± 1) ml. hingga merataLangkah pengujianTuangkan benda uji melalui saringan ke dalam tabung viskometer sampai pinggir atas tabung viskometer.Aduk benda uji dalam viskometer dengan termometer yang telah dilengkapi penyangga dengan kecepatan putaran/menit. Bila temperatur konstan, aduk selama 1 menit, kemudian angkat termometer dan ambil benda uji yang berlebihan dengan penyedot sampai batas peluapan.Letakkan labu penampung tepat dibawah tabung viskometer, kemudian lakukan pengujian dengan tarik/cabut penutup gabus sehingga aliran aspal cair masuk ke dalam labu penampungCatat dan hitung waktu (ketelitian ± 0,1 detik) mulai saat benda uji menyentuh dasar labu sampai terisi tepat pada batas 60 ml labu viskometerGunakan tabel konversi untuk menentukan kekentalan dalam kinematis.
Ø  BERAT BENDA UJI MINIMUM
PENGUJIAN KADAR BITUMEN ASBUTON BUTIR DENGAN CARA EKSTRAKSI CAMPURAN BERASPAL MENGGUNAKAN TABUNG REFLUKS GELASSiapkan alat tabung reflux gelas lengkapSiapkan kompor pemanasSiapkan alat untuk memeriksa kadar air dari campuran beraspal atau asbuton butirTentukan berat benda sesuai Tabel dibawah, atau ± 200 gram untuk benda uji Asbuton Butir.UKURAN MAKSIMUMBERAT BENDA UJI MINIMUM4,75 mm (0,187 inci)500 gram9,50 mm (3/8 inci)1000 gram12,50 mm (1/2 inci)1500 gram19,00 mm (3/4 inci)2000 gram25,40 mm (1,0 inci)3000 gram38,50 mm (1,5 inci)4000 gram
Panaskan contoh uji pada temperatur 110 °C ± 5 °C, sampai berbentuk curah dan dengan cara perempatan (quartering),Siapkan benda uji untuk penentuan kadar airSiapkan paling sedikit dua buah benda uji.Tentukan berat air dari contoh uji (W2);Keringkan kertas saring dalam oven 110°C ± 5°C dan timbang sampai berat tetap;Timbang berat tiap rangka silinder yang telah dipasang kertas saring, dengan ketelitian 0,5 gram;Letakkan kasa asbes di atas pelat pemanas listrik dan letakkan tabung gelas di atasnya;Atur pemanasan sehingga pelarut yang terkondensasi membasahi rangka yang berisi benda uji, jaga jangan sampai pelarut berlebih masuk ke dalam penyaring pada kerucut;
 Langkah pengujianMasukkan benda uji ke dalam rangka yang telah diberi kertas saring berbentuk kerucut, bila digunakan dua rangka, benda uji dibagi menjadi dua bagian dengan berat yang sama. Benda uji harus terletak dibawah ujung atas dari kertas saring, tentukan berat dari masing-masing rangka + benda uji dengan ketelitian 0,5 gram (W1);Gunakan salah satu pelarut Trichlorethylene atau Methylene Chloride;Bila digunakan dua rangka, tempatkan rangka atas pada rangka di bawahnya;Tuangkan pelarut kedalam tabung gelas yang sudah berisi rangka dan benda uji, dengan permukaan pelarut berada dibawah ujung kerucut rangka atas;Teruskan ekstraksi dengan cara refluks, sampai pelarut berwarna jernih;Matikan pelat pemanas listrik dan biarkan tabung cukup dingin untuk dipegang, lepaskan pendingin dan pindahkan dari tabung;Pindahkan rangka dari dalam tabung, biarkan kering di udara, setelah itu keringkan di dalam oven pada temperatur 110°C ± 5°C , setelah kering agregat ditimbangSaring filtrat dengan kertas saring yang telah ditimbang (B). keringkan dalam oven pada temperatur 110 °C ± 5° C sampai berat tetap, timbang.
PendinginTabung refluks gelasRangka kerucutKasa AsbesPelat pemanas listrik
Ø  PENGUJIAN CAMPURAN BERASPAL
1. Pengambilan Contoh BahanGuna keperluan perencanaan campuran, jumlah agregat dan aspal yang mewakili harus disiapkan dengan jumlah yang mencukupi untuk keperluan beberapa pengujian. Sebagai petunjuk banyak bahan yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut :4 liter ( 1 gal ) aspal keras23 kg ( 50 lb ) agregat kasar23 kg ( 50 lb ) agregat halus atau pasir9 kg ( 20 lb ) bahan pengisi jika diperlukan
Ø  PENGUJIAN BERAT JENIS MAKSIMUM CAMPURAN BERASPAL
Pengujian berat jenis maksimum campuran beraspal dimulai dengan persiapan benda uji yang diambil dengan prosedur baku. Ukuran agregat dan berat contoh minimum yang perlu disediakan adalah seperti diperlihatkan pada TabelUkuran Agregat Maksimum Dan Berat ContohUKURAN MAKS AGRBERAT CONTOH MINIMUMmm In Kg 25 12,519 212,51,59,53/84,75No.40,5Selanjutnya pisah-pisahkan contoh uji secara manual dengan ukuran agregat halus tidak lebih dari ¼ in (6,4 mm). Apabila pemisahan butiran dari contoh uji susah, contoh uji dihangatkan dalam oven
Ø  KEPADATAN MEMBAL DENGAN PRD
Bersihkan perlengkapan cetakan berdiameter 152,1 mm untuk benda uji serta bagian telapak penumbuk dengan seksama dan panaskan sampai temperatur antara 90oC – 150oC;Letakkan cetakan benda uji tersebut di atas alas cetakan dan longgarkan kedua bautnya, oleskan vaselin pada bagian dalam cetakan kemudian letakkan kertas saring atau kertas penghisap dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran dasar cetakan;Masukkan seluruh campuran beraspal panas ke dalam cetakan dan tusuk-tusuk campuran dengan spatula yang telah dipanaskan sebanyak 15 kali di sekeliling pinggirannya dan 10 kali di bagian tengahnya;Letakkan kertas saring atau kertas penghisap di atas permukaan benda uji dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran cetakan;Padatkan campuran beraspal dengan menggunakan alat pemadat getar listrik pertama menggunakan telapak penumbuk yang berukuran 150 mm selama 6 detik, selanjutnya menggunakan telapak penumbuk yang berukuran 100 mm sebanyak 8 (delapan) posisi penumbukan dan masing-masing posisi selama 6 detik dengan urutan penumbukan sesuai Gambar 1g;Lakukan penumbukan pada kedelapan posisi di atas secara berulang sehingga jumlah penumbukan untuk masing-masing posisi sebanyak 5 (lima) kali atau total waktu yang diperlukan untuk masing-masing posisi adalah 5 x 6 detik;
 Ganti telapak penumbuk dengan menggunakan telapak penumbuk yang berukuran 150 mm dan kemudian padatkan lagi selama 6 detik untuk mendapatkan permukaan atas benda uji menjadi rata;Keluarkan benda uji dari cetakan kemudian balikan dan selanjutnya letakkan kertas saring atau kertas penghisap di atas permukaan benda uji dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran cetakan serta padatkan dengan urutan penumbukan dan jumlah waktu penumbukan sesuai dengan penumbukan pada permukaan benda uji pertama;Keluarkan benda uji dengan hati-hati dan letakkan di atas permukaan yang rata dan biarkan selama kira-kira 24 jam pada suhu ruang;Bila diperlukan pendinginan yang lebih cepat dapat digunakan kipas angin meja;Lakukan penimbanganBersihkan benda uji dari butiran-butiran halus yang lepas dengan menggunakan kuas kemudian diberi label yang jelas;Ukur tinggi benda uji dengan ketelitian 0,1 mm (0,004 inc) dan bila tinggi benda uji kurang atau lebih dari persyaratan sesuai Butir 6.1.1).a). v maka beda uji tersebut tidak boleh digunakan dan harus dibuat kembali sebagai penganti;Catat tebal dan berat benda uji yang diperoleh pada formulir yang sudah disediakan;Timbang benda uji di udara = A gram;Timbang benda uji dalam air = B gram;Keringkan permukaan benda uji dengan kain lap sampai mencapai kering permukaan jenuh, kemudian ditimbang = C gram;Hitung besaran kepadatan mutlak sesuai dengan rumus berikut:
 dimana:
A = masa benda uji di udara (gram)
B = masa benda uji dalam air (gram)
C = masa benda uji kering permukaan jenuh (gram)= berat isi air (=1 gram/cm3)

3. GRADASI AGREGAT
Gradasi agregat adalah distribusi dari variasi ukuran butir agregat . Gradasi agregat berpengaruh pada besarnya rongga dalam campuran dan  menentukan workabilitas (kemudahan dalam pekerjaan) serta stabilitas campuran.
Gradasi agregat ditentukan dengan cara analisa saringan, dimana sampel agregat harus melalui satu set saringan. Ukuran saringan menyatakan ukuran bukaan jaringan kawat dan nomor saringan menyatakan banyaknya bukaan jaringan kawat per inchi pesegi dari saringan tersebut.


alat saringan
 Gradasi agregat dapat dibedakan atas :
  • Gradasi seragam (uniform graded)
        Gradasi seragam adalah gradasi agregat dengan ukuran butir yang hampir sama. Gradasi seragam ini disebut juga gradasi terbuka (open graded) karena hanya mengandung sedikit agregat halus sehingga terdapat banyak rongga/ ruang kosong antar agregat. Campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki stabilitas yang tinggi,agak kedap terhadap air dan memiliki berat isi yang besar.
  • Gradasi rapat (dense graded)
Gradasi rapat adalah gradasi agregat dimana terdapat butiran dari agregat kasar sampai halus, sehingga sering juga disebut gradasi menerus, atau gradasi baik (well graded). Campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki stabilitas yang tinggi, agak kedap terhadap air dan memiliki berat isi yang besar.

  • Gradasi senjang (gap graded)
Gradasi senjang adalah gradasi agregat dimana ukuran agregat yang ada tidak lengkap atau ada fraksi agregat yang tidak ada atau jumlahnya sedikit sekali. Campuran beraspal dengan gradasi ini memiliki kualitas peralihan dari keadaan campuran dengan gradasi yang disebutkan di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERUSAKAN JALAN FLEXIBEL PAVEMENT DAN RIGID PAVEMENT

penjelasan tentang K3 dan dokumen lingkungan pekerjaan jalan