ALAT DAN PROSES PELAKSANAAN PEK JALAN FLEXIBLE PAVEMENT DAN RIGID PAVEMENT
A. Flexible Pavement
Perkerasan lentur merupakan perkerasan jalan yang umum dipakai di Indonesia. Konstruksi perkerasan lentur disebut “lentur” karena konstruksi ini mengizinkan terjadinya deformasi vertikal akibat beban lalu lintas yang terjadi. Perkerasan lentur biasanya terdiri dari 3 lapis material konstruksi jalan diatas tanah dasar, yaitu lapis pondasi bawah, lapis pondasi atas, dan lapis permukaan. (Silvia Sukirman, 2003). Adapun proses yang harus dilalui adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan Persiapan (Mobilisasi dan Demobilisasi)
Pekerjaan Persiapan merupakan pekerjaan awal yang meliputi kegiatan – kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek, meliputi:
a. Pembuatan Job Mix Design
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan, terlebih dahulu melaksanakan pengambilan sampel bahan dari quary di sungai yang berada di lokasi setempat atau yang berdekatan dengan lokasi. Diantaranya batu, pasir dan aspal yang selanjutnya dibawa ke laboratorium job Mix Formula / Job Mix Design yang akan dipakai sebagai acuan kerja pelaksanaan proyek.
b. Kantor Lapangan dan Fasilitasnya
Tahap berikutnya penentuan lokasi basecamp pembuatan kantor lapangan dan fasilitasnya di lokasi proyek. Kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi peralatan yang diperlukan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
c. Pengaturan Arus Transportasi dan Pemeliharaan Terhadap Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi dilakukan dengan pembuatan tanda – tanda lalu lintas yang memadai disetiap kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi syarat yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
d. Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk direksi Teknis survey / rekayasa lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan structural dari pekerjaan dan fasilitas yang ada di lokasi pekerjaan. Sehingga dimungkinkan untuk mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan system dan tatacara survey dikoordinasikan dengan direksi teknis.
e. Material dan Penyimpanan
Bahan yang akan digunakan didalam pekerjaan harus memenuhi spesifikasi dan standard yang berlaku baik ukuran, tipe maupun ketentuan lainnya sesuai petunjuk direksi teknis. Semua material yang akan digunakan untuk proses pembuatan Asphalt Concrete diambil dari query sungai setempat, diolah dan dipoolkan di stone crusher / AMP.
f. Jadwal Konstruksi
Jadwal Konstruksi dibuat pihak kontraktor. Diajukan pada direksi teknis untuk dibahas dan mendapatkan persetujuan pada saat dilaksanakan rapat pendahuluan (Pre Construction Meeting/PCM).
g. Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi meliputi:
Ø Dump Truck 8 ton
Ø Dump Truck 3 – 4m 3,6 ton
Ø Asphalt finisher
Ø Tandem Roller
Ø Vibrator Roller
Ø Wheel Loader
Ø Excavator
Ø Motor Grader
Ø Aspal Spayer
Ø Water Tanker
Ø Concrete Mixer
Ø Generator set
Ø Compressor
Ø Survey equipment
Ø Pneumatic type roller (PTR)
Ø Flat Bed Truck
Ø Water Pump
Ø Slump Test
h. Papan nama proyek
Papan nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek. Papan nama dibuat dengan ukuran atas persetujuan direksi pekerjaan.
2. Pekerjaan Tanah Dasar
a. Jenis dan Karakteristik Tanah Dasar
Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya. Jenis- jenis tanah: Tanah Liat Koloidal (Colloid), Tanah liat biasa (clay), Tanah lumpur (silt), Pasir halus (fine sand), Pasir Kasar (Coarse sand), Kerikil (gravel).
b. Peralatan Pekerjaan pada Pekerjaan tanah dasar
Ø Jenis-jenis alat kerja yang digunakan pada proyek konstruksi jalan antara lain sebagai berikut:
§ Excavator : alat yang digunakan untuk pekerjaan galian dan timbunan tanah.
§ Dump Truck : sebuah truk yang mempunyai bak material yang dapat di miringkan sehingga untuk menurunkan material hanya dengan memiringkan bak materialnya.
§ Water Tank Truck : digunakan untuk mengangkut air, yang digunakan untuk pekerjaan pemadatan lapis pondasi agregat kelas A, setelah penghamparan material selesai kemudian di padatkan dan di siram air menggunakan water tank.
§ Vibratory Roller : alat pemadat yang menggabungkan antar tekanan dan getaran. Vibratory roller mempunyai efisiensi pemadatan yang baik.
§ Motor Grader : bagian dari alat berat, motor grader berfungsi sebagai alat perata atau penghampar yang biasanya digunakan untuk meratakan dan membentuk permukaan tanah. Selain itu, dimanfaatkan pula untuk mencampurkan dan menebarkan tanah dan campuran aspal.
§ Pneumatic Tire Roller : Alat ini baik sekali digunakan pada penggilasan bahan yang bergranular, juga baik digunakan pada penggilasan lapisan hot mix sebagai “penggilas antara”.
§ Tandem roller : Penggunaan dari penggilas ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak halus, misalnya pada penggilasan aspal beton dan lain-lain. Sebaiknya tandem roller jangan digunakan untuk menggilas batu-batuan yang keras dan tajam karena akan merusak roda-roda penggilasnya.
§ Asphalt finisher : berfungsi untuk menghamparkan aspal olahan dari mesin pengolah aspal, serta meratakan lapisannya. Konstruksi Asphalt Finisher cukup besar sehingga membutuhkan trailer untuk mengangkut alat ini ke medan proyek.
§ Alat-alat konvensional : Alat – alat konvensional tersebut seperti sekop tangan, sapu lidi, garuk, traffic cone, kereta dorong dan lainnya.
§ Termometer inframerah : alat untuk mendeteksi temperatur secara optik—selama objek diamati, radiasi energi sinar inframerah diukur, dan disajikan sebagai suhu.
§ Aspal Distributor : truk yang dilengkapi dengan tangki aspal, pompa, dan batang penyemprot.
§ Core Drill : alat yang digunakan untuk menentukan/mengambil sample perkerasan dilapangan sehingga bisa diketahui tebal perkerasannya serta untuk mengetahui karakteristik campuran perkerasan.
§ Sand Cone : alat yang digunakan untuk pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai sifat kering, bersih, keras, tidak memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir bebas.
§ Alat CBR (California Bearing Ratio) : alat yang digunakan untuk menentukan tebal suatu bagian perkerasan.
c. Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Ø Tanah Galian: Pekerjaan galian untuk pelebaran badan jalan tidak hanya mencakup pekerjaan penggalian, namun juga harus mencakup pekerjaan penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari jalan dan sekitarnya, dan pekerjaan lain yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan galian pelebaran ini. Tahapan pekerjaan Galian biasa adalah sebagai berikut :
1) Pekerjaan persiapan
Mempersiapkan alat bantu kerja, baik peralatan yang digunakan secara manual (termasuk alat ukur dan alat pelindung diri) atau peralatan bermesin (alat berat) yang perlu digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan galian.
2) Pelaksanaan
Tanah digali menggunakan alat excavator dengan ukuran dan kedalaman sesuai gambar kerja atau petunjuk direksi pekerjaan. Rapikan dasar galian secara manual dengan alat bantu seperti cangkul, sekop, dan lat bantu lain yang diperlukan. Pasang rambu peringatan dan barikade di sekitar lokasi pekerjaan agar tidak membahayakan para pengguna jalan. Material hasil galian tanah termasuk hasil pembersihan dan pengupasan lapisan atas tanah ini harus dibuang ke lokasi pembuangan yang telah disiapkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Ø Tanah Timbunan (Urugan)
Dapat dipakai dari hasil galian atau cut. Yang termasuk dalam rencana yang juga disebut Common excavation atau material atau bahan galian yang didatangkan dari luar daerah pekerjaan disebut Borrow Excavation. Jenis tanahnya yaitu Tanah – clay, Tanah bercampur batu - rock clay, Pasir + Batu (sirtu) – Granular material, Batu – hasil dari pemecahan (memakai dynamit) – rock, Pasir – sand. Cara Pelaksanaannya: Clearing & grubbing pekerjaan pemotongan pohon- pohon besar/ kecil. Top Soil & Stripping- pembuangan humus- humus/ lapisan atas, akar- akar kayu dan umumnya setebal 10-30 cm. Compaction of foundation of Embankment. Pemadatan tanah dasar sebelum dilaksanakan penimbunan. Lapisan ini perlu di test (density- test of proof rolling test) baru diteruskan pekerjaan selanjutnya- penimbunan. Penimbunan dilaksanakan lapis demi lapis/ layer by layer setebal ± 20 cm dan didapatkan dibawah 1.00 dari sub-grade pengetesan (density test dapat dilaksanakan setiap 3 lapis, jadi setiap lapisnya cukup dengan test proof rolling).
d. Pengendalian Mutu Pekerjaan
1. Pengendalian mutu bahan: Jumlah pengujian yang diperlukan untuk persetujuan awal mutu bahan paling sedikit 3 contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih mewakili rentang mutu bahan yang mungkin terdapat pada sumber bahan.
2. Ketentuan kepadatan untuk timbunan tanah
§ Lapisan tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai 95 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai SNI 03-1742-1989.
§ Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai dengan 100 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
§ Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis timbunan yang dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan kepadatan kurang dari yang disyaratkan maka Kontraktor harus memperbaiki.
§ Untuk timbunan, paling sedikit 1 rangkaian pengujian bahan yang lengkap harus dilakukan untuk setiap 1.000 m3 bahan timbunan yang dihampar.
3. Kriteria pemadatan untuk timbunan batu : Penghamparan dan pemadatan timbunan batu harus dilaksanakan dengan menggunakan penggilas berkisi (grid) atau pemadat bervibrasi atau peralatan berat lainnya yang serupa. Pemadatan harus dilaksanakan dalam arah memanjang sepanjang timbunan, dimulai pada tepi luar dan bergerak ke arah sumbu jalan, dan harus dilanjutkan sampai tidak ada gerakan yang tampak di bawah peralatan berat.
4. Percobaan pemadatan : Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan peralatan pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai. Hasil percobaan lapangan ini selanjutnya harus digunakan dalam menetapkan jumlah lintasan, jenis peralatan pemadat dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.
3. Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah
Ø Jenis dan Karakteristik Pondasi Bawah : lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai:
§ Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
§ Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
§ Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
§ Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
§ Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.
Ø Metode Pelaksanaan Pekerjaan : Sesudah lapisan sub-grade ini betul- betul telah memenuhi syarat- syarat evalasi dan kepadatan kita akan mulai pekerjaan sub-base course. Terlebih dahulu kita tentukan lagi patok- patoknya. Untuk mencapai ketebalan yang dikehendaki. Titik yang diperlukan minimum: 5 titik menurut potongan melintang (X – section) dan dengan jarak maksimum 25meter menurut potongan memanjang atau profil. Cara pengamparan: Setelah selesai pemasangan patok- patok untuk menentukan ketinggian/ ketebalannya maka kita dapat mendatangkan material seb-base ini kelapangan. Patok- patok itu dipasang harus cukup kuat, dan kita lindungi sekelilingnya dengan material sub-base tersebut ± ø 30 cm. Cara pemadatan: Prinsip pemadatan harus dimulai dari pinggir/ dari rendah ke tengah /tinggi. Setelah kita ratakan permukaan dengan motor grader. Pemadatan pertama kita laksanakan dengan road roller (MacAdam Roller atau Tandem Roller). Selanjutnya dengan Tire Roller dimana sambil ikut memadatkan pada waktu/ keadaan memerlukan sambil menyiram. Untuk menyelesaikan pemadatan kita pakai sebaiknya Mac Adam Roller. Sudah cukup padat, melihat dengan pandangan mata pertama kali (pengalaman). Sebelumnya meneruskan pekerjaan selanjutnya mencetak elevasi (oleh surveyor) dan kepadatan. Density Test oleh Soil Material Enginer/ Laboratorium. Apabila sudah memenuhi syarat untuk hal kedua ini (elevasi dan kepadatannya) secara tertulis baru dapat dilaksanakan pekerjaan berikutnya/ base course.
Ø Pengendalian Mutu Pekerjaan
o Kekuatan agregat abrasi
o Analisa saringan Batas cair (atterberg limit)
o Sand eguialent
o Indeks kepipihan
o Prosentase satu bidang pecah CBR Laboratorium
o Sand cone
4. Pekerjaan Lapis Pondasi Atas
Ø Jenis dan Karakteristik Pondasi Bawah: lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan.
Ø Metode Pelaksanaan Pekerjaan : Seperti yang diuraikan pada pekerjaan sub-base course pekerjaan base course prinsipnya sama saja. Yaitu:
v Permukaan sub- base course harus sudah rata dan padat.
v Dipasang patok- patok untuk pedoman ketinggiannya (dalam arah melintang 5 titik dan arah memanjang dengan jarak maksimal setiap 25 m) sesuai dengan station X-section.
v Dengan mengetahui volume dari truck, maka didapatkan setiap jarak tertentu volumenya yang diperlukan.
v Toleransi ketinggian diambil ± 1 cm, dimana menurut pengalaman waktu pengamparannya dilebihkan dari tinggi yang diperlukan Ump. : tebal 15 cm padat, sebelum dipadatkan kita ampar tebalnya 16.5- 17.50. Ini jangan lupa bahwa lebih kering akan banyak susut/ turunnya daripada materialnya basah. Menurut pengalaman dengan cara itu kita telah mendapatkan ketinggian dalam ketentuan (toleransi) dan mengurangi segregation.
v Sesudah tersedia dilapangan kerja dengan volume yang diperlukan barulah kita apreading/ampar dan grading/ratakan, sesudah rata kelihatannya baru kita padatkan (pertama dengan Mac Adam Roller atau Tandem Roller, dimana biasanya dapat dilihat mana yang rendah dan tinggi perlu kita tambah/kurangi. Setelah kira-kira rata lagi baru selanjutnya kita padatkan pakai Tire Roller sambil disiram
v Untuk finishing, lebih baik dipadatkan pakai Mac Adam Roller lagi.
v Setelah rata dan padat tentu dengan pengecekan oleh surveyor (Check level/permukaan) dan kepadatannya oleh Soil Material Enginer (Density test) dengan data tertulis, baru pekerjaan selanjutnya dilanjutkan ke pekerjaan Prime-Coat.
B. Rigid Pavement
Perkerasan jalan beton semen atau perkerasan kaku, terdiri dari plat beton semen, dengan atau tanpa lapisan pondasi bawah, di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton semen sering juga dianggap sebagai lapis pondasi, kalau di atasnya masih ada lapisan aspal. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah sebagai berikut:
1. Penyiapan Tanah Dasar Dan Lapis Pondasi Bawah
a) Pembentukan Permukaan : Persyaratan tanah dasar untuk perkerasan kaku sama dengan persyaratan tanah dasar untuk perkerasan lentur, baik mengenai daya dukung, kepadatan maupun kerataannya. Lapis pondasi bawah untuk perkerasan kaku dapat berupa lean concrete (beton kurus), atau bahan berbutir yang bisa berupa agregat atau lapisan pasir (sand bedding). Lapis pondasi bawah tidak dimaksudkan untuk ikut menahan beban lalu lintas, tetapi lebih berfungsi sebagai lantai kerja dan sebagai fasilitas drainase agar air dapat bebas bergerak di bawah plat beton tanpa mengerosi butir-butir tanah yang membentuk tanah dasar. Oleh karena itu biasanya lapis pondasi bawah dari bahan berbutir harus memenuhi persyaratan sebagai filter material. Persiapan penting yang harus dilakukan sebelum penghamparan plat beton meliputi berbagai hal seperti membentuk, membuat penyesuaian-penyesuaian seperlunya pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah, dan bila perlu, menambahkan air dan memadatkan kembali permukaan disesuaikan dengan alinyemen dan potongan melintang.
b) Persyaratan dan Pemeriksaan Bentuk Akhir: Sebelum dilakukan penghamparan beton, tanah dasar atau lapisan pondasi bawah diperiksa kepadatan dan bentuk penampang melintangnya. Permukaan lapisan yang akan dicor beton harus senantiasa bebas dari benda-benda asing, sisa-sisa beton, dan kotoran-kotoran lainnya.
c) Pemasangan Membran Kedap Air: Membran kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang kedap air setebal 125 micron yang berguna agar air semen dari plat beton yang dicor tidak meresap ke dalam lapisan di bawahnya, dan juga untuk mencegah adanya ikatan antara plat beton dengan lapis pondasi bawah yang akan mengakibatkan terjadinya retak-retak
4. PENGENDALIAN MUTU Dl LAPANGAN
Ø Pengujian untuk kelecakan (workability): Satu atau lebih pengujian "slump", harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan.
Ø Pengujian kuat tekan: Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari 1 pengujian kuat tekan untuk setiap 60 m3 beton yang dicor. Setiap pengujian harus termasuk 3 contoh yang identik untuk diuji pada umur 3, 7 dan 28 hari.
Ø Pengujian tambahan: Kontraktor harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, pengujian tambahan tersebut meliputi :
· Pengujian yang tidak merusak menggunakan "sclerometer" atau perangkat penguji lainnya.
· Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton.
· Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan secara khusus.
5. PENGECORAN DAN PENYELESAIAN AKHIR BETON
Ø Pengecoran
· Peralatan: Pada pekerjan besar, biasanya harus disediakan baik penghampar jenis dayung (paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah (hopper) dan ulir (auger), kecuali apabila digunakan penghampar acuan gelincir. Pada mesin penghampar acuan gelincir, peralatan penghampar (spreader) merupakan bagian yang sudah melekat (built-in). Untuk mengurangi pemisahan butir, semua peralatan harus dioperasikan secara seksama.
· Penghamparan Dua Lapis: Apabila tulangan terdiri dari anyaman dan harus diletakkan secara manual, maka beton di bawah anyaman harus dihampar terlebih dahulu tersendiri (struck-off), kemudian anyaman diletakkan dan selanjutnya lapisan berikutnya dihampar.
· Percobaan Penghamparan: Kontraktor harus menyediakan peralatan dan menunjukkan metode pelaksanaan pekerjaan dengan cara menghamparkan lapisan percobaan sepanjang tidak kurang dari 30 m di lokasi yang disediakan oleh Kontraktor di luar daerah kerja permanen.
Ø Pemadatan
· Pemadatan pada sambungan dan tepi-tepi, penekanan, pemadatan secara tumbuk, dan pemadatan secara getar, sampai tingkat tertentu cukup efektif, tapi tidak secara otomatis menjamin kepadatan beton. Mesin getar (vibrator), baik jenis internal maupun jenis permukaan dapat memberikan hasil yang baik.
6. Penyelesaian Akhir
a. Mesin Penghampar Acuan Gelincir (Slip Form): dirancang untuk sekali lintasan dapat menghampar, memadatkan, membentuk permukaan dan meratakan beton yang masih plastis, sehingga dapat memberikan beton yang padat, seragam; dan untuk mendapatkan permukaan yang disyaratkan hanya memerlukan penyelesaian akhir (dengan tangan) yang minimal.
b. Mesin Penghampar Acuan Tetap (Fixed Form): Mesin pencetak perkerasan jalan beton dengan sebilah pisau perata, kayuh berputar atau perlengkapan berputar, harus mencetak beton yang bersangkutan sehingga memiliki elevasi, dimensi, kerataan dan kehalusan yang disyaratkan; dan kemudian harus memadatkan beton tersebut dengan vibrasi atau dengan suatu kombinasi vibrasi dan penumbukan mekanis.
c. Pemadatan dan Penyelesaian dengan Balok Vibrasi Terkendali: bilamana pelat-pelat berukuran kecil atau tidak beraturan, atau bila tempat kerja yang bersangkutan sedemikian terbatas sehingga menyebabkan penggunaan cara-cara yang diuraikan di atas menjadi tidak praktis, maka beton dapat dicor dan diratakan secara manual tanpa pra-pemadatan atau segregasi.
d. Pembentukan Tekstur Permukaan: Permukaan perkerasan harus mencakup tektur dan harus kasar. Tekstur harus diperoleh dari pasir dalam mortar semen.
7. PELEPAAN (Floating)
Setelah ditempa dan dikonsolidasikan, beton harus diperhalus lagi dengan bantuan alat-alat lepa, dengan salah satu metoda berikut:
· Metode manual
· Metode Mekanis
8. MEMPERBAIKI PERMUKAAN
Setelah pelepaan selesai dan kelebihan air dibuang, sementara beton masih lembek, bagian-bagian yang melesak harus segera diisi dengan beton baru, ditempa, dikonsolidasi dan di finishing lagi. Daerah yang menonjol / berlebih harus dipotong dan di-finishing lagi. Sambungan harus diperiksa kerataannya. Permukaan harus terus diperiksa dan dibetuikan sampai tak ada lagi perbedaan tinggi pada permukaan dan perkerasan beton sesuai dengan kelandaian dan tampang melintang yang ditentukan.
9. PENYELESAIAN PERMUKAAN (Finishing)
Setelah sambungan dan tepian selesai, dan sebelum bahan perawatan (curing) dilakukan, permukaan beton harus dikasarkan dengan disikat melintang garis sumbu (centre line) jalan, atau dengan cara pembuatan alur (grooving) pada arah melintang atau memanjang jalan. Pengkasaran yang dilakukan dengan menggunakan sikat kawat selebar tidak kurang dari 45 cm, dan panjang kawat sikat dalam keadaan baru adalah 10 cm dengan masing-masing untaian terdiri dari 32 kawat. Sikat hams terdiri dari 2 baris untaian kawat, yang diatur berselang-seling sehingga jarak masing-masing pusat untaian maksimum 1 cm. Sikat harus diganti bila bulu terpendek panjangnya sampai 9 cm. Kedalaman tekstur rata-rata tidak boleh kurang dari 0,75 mm.
Perkerasan lentur merupakan perkerasan jalan yang umum dipakai di Indonesia. Konstruksi perkerasan lentur disebut “lentur” karena konstruksi ini mengizinkan terjadinya deformasi vertikal akibat beban lalu lintas yang terjadi. Perkerasan lentur biasanya terdiri dari 3 lapis material konstruksi jalan diatas tanah dasar, yaitu lapis pondasi bawah, lapis pondasi atas, dan lapis permukaan. (Silvia Sukirman, 2003). Adapun proses yang harus dilalui adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan Persiapan (Mobilisasi dan Demobilisasi)
Pekerjaan Persiapan merupakan pekerjaan awal yang meliputi kegiatan – kegiatan pendahuluan untuk mendukung permulaan proyek, meliputi:
a. Pembuatan Job Mix Design
Sebelum pekerjaan utama dilaksanakan, terlebih dahulu melaksanakan pengambilan sampel bahan dari quary di sungai yang berada di lokasi setempat atau yang berdekatan dengan lokasi. Diantaranya batu, pasir dan aspal yang selanjutnya dibawa ke laboratorium job Mix Formula / Job Mix Design yang akan dipakai sebagai acuan kerja pelaksanaan proyek.
b. Kantor Lapangan dan Fasilitasnya
Tahap berikutnya penentuan lokasi basecamp pembuatan kantor lapangan dan fasilitasnya di lokasi proyek. Kemudian dilanjutkan dengan mobilisasi peralatan yang diperlukan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.
c. Pengaturan Arus Transportasi dan Pemeliharaan Terhadap Arus Lalu Lintas
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, pengaturan arus lalu lintas transportasi dilakukan dengan pembuatan tanda – tanda lalu lintas yang memadai disetiap kegiatan lapangan. Bila diperlukan dapat ditempatkan petugas pemberi syarat yang bertugas mengatur arus lalu lintas pada saat pelaksanaan.
d. Rekayasa Lapangan
Dengan petunjuk direksi Teknis survey / rekayasa lapangan dilaksanakan untuk menentukan kondisi fisik dan structural dari pekerjaan dan fasilitas yang ada di lokasi pekerjaan. Sehingga dimungkinkan untuk mengadakan peninjauan ulang terhadap rancangan kerja yang telah diberikan system dan tatacara survey dikoordinasikan dengan direksi teknis.
e. Material dan Penyimpanan
Bahan yang akan digunakan didalam pekerjaan harus memenuhi spesifikasi dan standard yang berlaku baik ukuran, tipe maupun ketentuan lainnya sesuai petunjuk direksi teknis. Semua material yang akan digunakan untuk proses pembuatan Asphalt Concrete diambil dari query sungai setempat, diolah dan dipoolkan di stone crusher / AMP.
f. Jadwal Konstruksi
Jadwal Konstruksi dibuat pihak kontraktor. Diajukan pada direksi teknis untuk dibahas dan mendapatkan persetujuan pada saat dilaksanakan rapat pendahuluan (Pre Construction Meeting/PCM).
g. Pelaksanaan Mobilisasi Peralatan
Dalam pelaksanaan proyek ini mobilisasi meliputi:
Ø Dump Truck 8 ton
Ø Dump Truck 3 – 4m 3,6 ton
Ø Asphalt finisher
Ø Tandem Roller
Ø Vibrator Roller
Ø Wheel Loader
Ø Excavator
Ø Motor Grader
Ø Aspal Spayer
Ø Water Tanker
Ø Concrete Mixer
Ø Generator set
Ø Compressor
Ø Survey equipment
Ø Pneumatic type roller (PTR)
Ø Flat Bed Truck
Ø Water Pump
Ø Slump Test
h. Papan nama proyek
Papan nama ini digunakan sebagai identitas dan informasi mengenai proyek. Papan nama dibuat dengan ukuran atas persetujuan direksi pekerjaan.
2. Pekerjaan Tanah Dasar
a. Jenis dan Karakteristik Tanah Dasar
Tanah Dasar adalah permukaan tanah semula atau permukaan galian atau permukaan tanah timbunan, yang dipadatkan dan merupakan permukaan dasar untuk perletakan bagian-bagian perkerasan lainnya. Jenis- jenis tanah: Tanah Liat Koloidal (Colloid), Tanah liat biasa (clay), Tanah lumpur (silt), Pasir halus (fine sand), Pasir Kasar (Coarse sand), Kerikil (gravel).
b. Peralatan Pekerjaan pada Pekerjaan tanah dasar
Ø Jenis-jenis alat kerja yang digunakan pada proyek konstruksi jalan antara lain sebagai berikut:
§ Excavator : alat yang digunakan untuk pekerjaan galian dan timbunan tanah.
§ Dump Truck : sebuah truk yang mempunyai bak material yang dapat di miringkan sehingga untuk menurunkan material hanya dengan memiringkan bak materialnya.
§ Water Tank Truck : digunakan untuk mengangkut air, yang digunakan untuk pekerjaan pemadatan lapis pondasi agregat kelas A, setelah penghamparan material selesai kemudian di padatkan dan di siram air menggunakan water tank.
§ Vibratory Roller : alat pemadat yang menggabungkan antar tekanan dan getaran. Vibratory roller mempunyai efisiensi pemadatan yang baik.
§ Motor Grader : bagian dari alat berat, motor grader berfungsi sebagai alat perata atau penghampar yang biasanya digunakan untuk meratakan dan membentuk permukaan tanah. Selain itu, dimanfaatkan pula untuk mencampurkan dan menebarkan tanah dan campuran aspal.
§ Pneumatic Tire Roller : Alat ini baik sekali digunakan pada penggilasan bahan yang bergranular, juga baik digunakan pada penggilasan lapisan hot mix sebagai “penggilas antara”.
§ Tandem roller : Penggunaan dari penggilas ini umumnya untuk mendapatkan permukaan yang agak halus, misalnya pada penggilasan aspal beton dan lain-lain. Sebaiknya tandem roller jangan digunakan untuk menggilas batu-batuan yang keras dan tajam karena akan merusak roda-roda penggilasnya.
§ Asphalt finisher : berfungsi untuk menghamparkan aspal olahan dari mesin pengolah aspal, serta meratakan lapisannya. Konstruksi Asphalt Finisher cukup besar sehingga membutuhkan trailer untuk mengangkut alat ini ke medan proyek.
§ Alat-alat konvensional : Alat – alat konvensional tersebut seperti sekop tangan, sapu lidi, garuk, traffic cone, kereta dorong dan lainnya.
§ Termometer inframerah : alat untuk mendeteksi temperatur secara optik—selama objek diamati, radiasi energi sinar inframerah diukur, dan disajikan sebagai suhu.
§ Aspal Distributor : truk yang dilengkapi dengan tangki aspal, pompa, dan batang penyemprot.
§ Core Drill : alat yang digunakan untuk menentukan/mengambil sample perkerasan dilapangan sehingga bisa diketahui tebal perkerasannya serta untuk mengetahui karakteristik campuran perkerasan.
§ Sand Cone : alat yang digunakan untuk pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan yang mempunyai sifat kering, bersih, keras, tidak memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir bebas.
§ Alat CBR (California Bearing Ratio) : alat yang digunakan untuk menentukan tebal suatu bagian perkerasan.
c. Metode Pelaksanaan Pekerjaan
Ø Tanah Galian: Pekerjaan galian untuk pelebaran badan jalan tidak hanya mencakup pekerjaan penggalian, namun juga harus mencakup pekerjaan penanganan, pembuangan atau penumpukan tanah atau batu atau bahan lain dari jalan dan sekitarnya, dan pekerjaan lain yang diperlukan untuk penyelesaian pekerjaan galian pelebaran ini. Tahapan pekerjaan Galian biasa adalah sebagai berikut :
1) Pekerjaan persiapan
Mempersiapkan alat bantu kerja, baik peralatan yang digunakan secara manual (termasuk alat ukur dan alat pelindung diri) atau peralatan bermesin (alat berat) yang perlu digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan galian.
2) Pelaksanaan
Tanah digali menggunakan alat excavator dengan ukuran dan kedalaman sesuai gambar kerja atau petunjuk direksi pekerjaan. Rapikan dasar galian secara manual dengan alat bantu seperti cangkul, sekop, dan lat bantu lain yang diperlukan. Pasang rambu peringatan dan barikade di sekitar lokasi pekerjaan agar tidak membahayakan para pengguna jalan. Material hasil galian tanah termasuk hasil pembersihan dan pengupasan lapisan atas tanah ini harus dibuang ke lokasi pembuangan yang telah disiapkan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Ø Tanah Timbunan (Urugan)
Dapat dipakai dari hasil galian atau cut. Yang termasuk dalam rencana yang juga disebut Common excavation atau material atau bahan galian yang didatangkan dari luar daerah pekerjaan disebut Borrow Excavation. Jenis tanahnya yaitu Tanah – clay, Tanah bercampur batu - rock clay, Pasir + Batu (sirtu) – Granular material, Batu – hasil dari pemecahan (memakai dynamit) – rock, Pasir – sand. Cara Pelaksanaannya: Clearing & grubbing pekerjaan pemotongan pohon- pohon besar/ kecil. Top Soil & Stripping- pembuangan humus- humus/ lapisan atas, akar- akar kayu dan umumnya setebal 10-30 cm. Compaction of foundation of Embankment. Pemadatan tanah dasar sebelum dilaksanakan penimbunan. Lapisan ini perlu di test (density- test of proof rolling test) baru diteruskan pekerjaan selanjutnya- penimbunan. Penimbunan dilaksanakan lapis demi lapis/ layer by layer setebal ± 20 cm dan didapatkan dibawah 1.00 dari sub-grade pengetesan (density test dapat dilaksanakan setiap 3 lapis, jadi setiap lapisnya cukup dengan test proof rolling).
d. Pengendalian Mutu Pekerjaan
1. Pengendalian mutu bahan: Jumlah pengujian yang diperlukan untuk persetujuan awal mutu bahan paling sedikit 3 contoh yang mewakili sumber bahan yang diusulkan, yang dipilih mewakili rentang mutu bahan yang mungkin terdapat pada sumber bahan.
2. Ketentuan kepadatan untuk timbunan tanah
§ Lapisan tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai 95 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai SNI 03-1742-1989.
§ Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai dengan 100 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
§ Pengujian kepadatan harus dilakukan pada setiap lapis timbunan yang dipadatkan sesuai dengan SNI 03-2828-1992 dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan kepadatan kurang dari yang disyaratkan maka Kontraktor harus memperbaiki.
§ Untuk timbunan, paling sedikit 1 rangkaian pengujian bahan yang lengkap harus dilakukan untuk setiap 1.000 m3 bahan timbunan yang dihampar.
3. Kriteria pemadatan untuk timbunan batu : Penghamparan dan pemadatan timbunan batu harus dilaksanakan dengan menggunakan penggilas berkisi (grid) atau pemadat bervibrasi atau peralatan berat lainnya yang serupa. Pemadatan harus dilaksanakan dalam arah memanjang sepanjang timbunan, dimulai pada tepi luar dan bergerak ke arah sumbu jalan, dan harus dilanjutkan sampai tidak ada gerakan yang tampak di bawah peralatan berat.
4. Percobaan pemadatan : Percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan variasi jumlah lintasan peralatan pemadat dan kadar air sampai kepadatan yang disyaratkan tercapai. Hasil percobaan lapangan ini selanjutnya harus digunakan dalam menetapkan jumlah lintasan, jenis peralatan pemadat dan kadar air untuk seluruh pemadatan berikutnya.
3. Pekerjaan Lapis Pondasi Bawah
Ø Jenis dan Karakteristik Pondasi Bawah : lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai:
§ Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
§ Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
§ Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
§ Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
§ Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.
Ø Metode Pelaksanaan Pekerjaan : Sesudah lapisan sub-grade ini betul- betul telah memenuhi syarat- syarat evalasi dan kepadatan kita akan mulai pekerjaan sub-base course. Terlebih dahulu kita tentukan lagi patok- patoknya. Untuk mencapai ketebalan yang dikehendaki. Titik yang diperlukan minimum: 5 titik menurut potongan melintang (X – section) dan dengan jarak maksimum 25meter menurut potongan memanjang atau profil. Cara pengamparan: Setelah selesai pemasangan patok- patok untuk menentukan ketinggian/ ketebalannya maka kita dapat mendatangkan material seb-base ini kelapangan. Patok- patok itu dipasang harus cukup kuat, dan kita lindungi sekelilingnya dengan material sub-base tersebut ± ø 30 cm. Cara pemadatan: Prinsip pemadatan harus dimulai dari pinggir/ dari rendah ke tengah /tinggi. Setelah kita ratakan permukaan dengan motor grader. Pemadatan pertama kita laksanakan dengan road roller (MacAdam Roller atau Tandem Roller). Selanjutnya dengan Tire Roller dimana sambil ikut memadatkan pada waktu/ keadaan memerlukan sambil menyiram. Untuk menyelesaikan pemadatan kita pakai sebaiknya Mac Adam Roller. Sudah cukup padat, melihat dengan pandangan mata pertama kali (pengalaman). Sebelumnya meneruskan pekerjaan selanjutnya mencetak elevasi (oleh surveyor) dan kepadatan. Density Test oleh Soil Material Enginer/ Laboratorium. Apabila sudah memenuhi syarat untuk hal kedua ini (elevasi dan kepadatannya) secara tertulis baru dapat dilaksanakan pekerjaan berikutnya/ base course.
Ø Pengendalian Mutu Pekerjaan
o Kekuatan agregat abrasi
o Analisa saringan Batas cair (atterberg limit)
o Sand eguialent
o Indeks kepipihan
o Prosentase satu bidang pecah CBR Laboratorium
o Sand cone
4. Pekerjaan Lapis Pondasi Atas
Ø Jenis dan Karakteristik Pondasi Bawah: lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan.
Ø Metode Pelaksanaan Pekerjaan : Seperti yang diuraikan pada pekerjaan sub-base course pekerjaan base course prinsipnya sama saja. Yaitu:
v Permukaan sub- base course harus sudah rata dan padat.
v Dipasang patok- patok untuk pedoman ketinggiannya (dalam arah melintang 5 titik dan arah memanjang dengan jarak maksimal setiap 25 m) sesuai dengan station X-section.
v Dengan mengetahui volume dari truck, maka didapatkan setiap jarak tertentu volumenya yang diperlukan.
v Toleransi ketinggian diambil ± 1 cm, dimana menurut pengalaman waktu pengamparannya dilebihkan dari tinggi yang diperlukan Ump. : tebal 15 cm padat, sebelum dipadatkan kita ampar tebalnya 16.5- 17.50. Ini jangan lupa bahwa lebih kering akan banyak susut/ turunnya daripada materialnya basah. Menurut pengalaman dengan cara itu kita telah mendapatkan ketinggian dalam ketentuan (toleransi) dan mengurangi segregation.
v Sesudah tersedia dilapangan kerja dengan volume yang diperlukan barulah kita apreading/ampar dan grading/ratakan, sesudah rata kelihatannya baru kita padatkan (pertama dengan Mac Adam Roller atau Tandem Roller, dimana biasanya dapat dilihat mana yang rendah dan tinggi perlu kita tambah/kurangi. Setelah kira-kira rata lagi baru selanjutnya kita padatkan pakai Tire Roller sambil disiram
v Untuk finishing, lebih baik dipadatkan pakai Mac Adam Roller lagi.
v Setelah rata dan padat tentu dengan pengecekan oleh surveyor (Check level/permukaan) dan kepadatannya oleh Soil Material Enginer (Density test) dengan data tertulis, baru pekerjaan selanjutnya dilanjutkan ke pekerjaan Prime-Coat.
B. Rigid Pavement
Perkerasan jalan beton semen atau perkerasan kaku, terdiri dari plat beton semen, dengan atau tanpa lapisan pondasi bawah, di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton semen sering juga dianggap sebagai lapis pondasi, kalau di atasnya masih ada lapisan aspal. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui adalah sebagai berikut:
1. Penyiapan Tanah Dasar Dan Lapis Pondasi Bawah
a) Pembentukan Permukaan : Persyaratan tanah dasar untuk perkerasan kaku sama dengan persyaratan tanah dasar untuk perkerasan lentur, baik mengenai daya dukung, kepadatan maupun kerataannya. Lapis pondasi bawah untuk perkerasan kaku dapat berupa lean concrete (beton kurus), atau bahan berbutir yang bisa berupa agregat atau lapisan pasir (sand bedding). Lapis pondasi bawah tidak dimaksudkan untuk ikut menahan beban lalu lintas, tetapi lebih berfungsi sebagai lantai kerja dan sebagai fasilitas drainase agar air dapat bebas bergerak di bawah plat beton tanpa mengerosi butir-butir tanah yang membentuk tanah dasar. Oleh karena itu biasanya lapis pondasi bawah dari bahan berbutir harus memenuhi persyaratan sebagai filter material. Persiapan penting yang harus dilakukan sebelum penghamparan plat beton meliputi berbagai hal seperti membentuk, membuat penyesuaian-penyesuaian seperlunya pada permukaan tanah dasar atau lapis pondasi bawah, dan bila perlu, menambahkan air dan memadatkan kembali permukaan disesuaikan dengan alinyemen dan potongan melintang.
b) Persyaratan dan Pemeriksaan Bentuk Akhir: Sebelum dilakukan penghamparan beton, tanah dasar atau lapisan pondasi bawah diperiksa kepadatan dan bentuk penampang melintangnya. Permukaan lapisan yang akan dicor beton harus senantiasa bebas dari benda-benda asing, sisa-sisa beton, dan kotoran-kotoran lainnya.
c) Pemasangan Membran Kedap Air: Membran kedap air harus terdiri dari lembaran plastik yang kedap air setebal 125 micron yang berguna agar air semen dari plat beton yang dicor tidak meresap ke dalam lapisan di bawahnya, dan juga untuk mencegah adanya ikatan antara plat beton dengan lapis pondasi bawah yang akan mengakibatkan terjadinya retak-retak
Acuan (bekisting / form) yang digunakan harus
cukup kuat untuk menahan beban-beban selama pelaksanaan. Kekuatan acuan yang
terbuat dari baja lurus, harus diuji, dan harus memenuhi persyaratan bahwa
acuan harus tidak melendut lebih besar dari 6,4 mm (1/4 inch) bila diuji
sebagai balok biasa dengan bentang 3 m (10 ft) dan beban yang sama dengan berat
mesin penghampar atau peralatan pelaksanaan lainnya yang mungkin akan bergerak
di atasnya. Tebal baja yang
biasanya digunakan adalah 6,4 mm (1/4 inch) dan 8 mm (5/16 inch). Bila acuan
harus mendukung alat penghampar beton yang berat, ketebalannya tidak boleh
kurang dari 8 mm (5/16 inch). Dianjurkan agar acuan mempunyai tinggi yang sama
dengan tebal rencana pelat beton dan lebar dasar acuan sama dengan 0,75 kali
tebal pelat beton tapi kurang dari 200 mm (8 inch). Acuan harus dipasang sedemikian
rupa sehingga cukup kokoh, tidak melentur atau turun akibat tumbukan dan
getaran alat penghampar dan alat pemadat. Lebar flens penguat yang dipasang
pada dasar acuan harus menonjol keluar dari acuan tidak kurang dari 2/3 tinggi
acuan. Dalam
pemeriksaan kelurusan dan kerataan acuan variasi kerataan bidang atas acuan
tidak boleh lebih dari 0,32 cm (1/8 inch) untuk setiap 3 m (10 ft) panjang dan
kerataan bidang dalam acuan tidak boleh lebih dari 0,64 cm (1/4 inch) untuk
setiap 3 m (10 ft) panjang. Ujung-ujung
acuan yang berdampingan harus mempunyai sistem penguncian untuk menyambung dan
mengikat erat acuan-acuan tersebut. Pada lengkungan dengan jari-jari kecil
dianjurkan untuk menggunakan acuan yang dapat dibengkokkan (flexible
form) atau acuan melengkung. Untuk pekerjaan-pekerjaan yang relatif kecil, yang
bersifat padat karya, maka acuan dari kayu dapat digunakan, untuk alat perata
dapat menggunakan vibrator perata biasa (besi profil yang dilengkapi mesin
penggetar dan ditarik tenaga manusia). Kayu untuk keperluan ini dibuat dari
kayu yang cukup kuat dengan baja siku dipasang di atasnya, dengan angkur
pemegang setiap 0,5 meter.
Pemasangan acuan baja maupun kayu
pada prinsipnya harus mengikuti ketentuan-ketentuan di bawah ini.
·
Pondasi
acuan harus dipadatkan dan dibentuk sesuai dengan alinyemen dan ketinggian
jalan yang bersangkutan sehingga acuan yang dipasang dapat disangga secara
seragam pada seluruh panjangnya dan terletak pada elevasi yang benar.
·
Pembuatan
galian untuk meletakkan acuan pada ketinggian yang tepat, sebaiknva dilakukan,
dengan cara mengupas / mengeruk. Bekas galian di kiri dan kanan pondasi acuan,
harus diisi dan dipadatkan kembali. Alinyemen acuan baru harus diperiksa dan
bila perlu diperbaiki memanjang penghamparan beton.
·
Bila
terdapat acuan yang rusak atau sesudah perbaikan pondasi yang tidak stabil,
acuan harus disetel kembali. Acuan harus dipasang cukup jauh di depan tempat
penghamparan beton sehingga memungkinkan pemeriksaan dan perbaikan acuan tanpa mengganggu
kelancaran penghamparan beton.
·
Acuan
dipasang pada posisi yang benar, dan tanah dasar atau lapis pondasi bawah pada
kedua sisi luar dan dalam harus dipadatkan dengan baik menggunakan alat pemadat
mesin atau manual. Acuan harus disangga pada tempatnya, paling sedikit setiap 3
m (10 ft).
Acuan harus tetap dipasang selama
paling sedikit 8 jam setelah penghamparan beton. Setelah acuan dibongkar, permukaan beton yang terbuka
harus segera dirawat.
a) Semen harus merupakan semen
portland jenis I, II atau III sesuai dengan AASHTO M 85.
b) Kecuali diperkenankan lain, maka
hanya produk dari satu pabrik atau satu jenis merk semen portland tertentu yang
harus digunakan di proyek.
Air yang digunakan dalam
pencampuran, perawatan atau penggunaan-penggunaan tertentu lainnya harus bersih
dan bebas dari bahan-bahan yang merugikan seperti minyak, garam, asam, alkali,
gula atau bahan-bahan organik. Air harus diuji sesuai dengan dan harus memenuhi
persyaratan AASHTO T 26.4. PENGENDALIAN MUTU Dl LAPANGAN
Ø Pengujian untuk kelecakan (workability): Satu atau lebih pengujian "slump", harus dilaksanakan pada setiap takaran beton yang dihasilkan.
Ø Pengujian kuat tekan: Kontraktor harus melaksanakan tidak kurang dari 1 pengujian kuat tekan untuk setiap 60 m3 beton yang dicor. Setiap pengujian harus termasuk 3 contoh yang identik untuk diuji pada umur 3, 7 dan 28 hari.
Ø Pengujian tambahan: Kontraktor harus melaksanakan pengujian tambahan yang diperlukan untuk menentukan mutu bahan atau campuran atau pekerjaan beton akhir, pengujian tambahan tersebut meliputi :
· Pengujian yang tidak merusak menggunakan "sclerometer" atau perangkat penguji lainnya.
· Pengambilan dan pengujian benda uji inti (core) beton.
· Pengujian lainnya sebagaimana ditentukan secara khusus.
5. PENGECORAN DAN PENYELESAIAN AKHIR BETON
Ø Pengecoran
a.
Peralatan Pengecoran: harus mampu mengalirkan adukan beton dari mesin pengaduk atau alat pengangkut campuran beton dan menuangkannya ke setiap tempat tanpa terjadi pemisahan butir (segregasi) dan tanpa merusak permukaan yang dihampar. Pada pekerjaan besar, pengecoran seringkali menuntut penggunaan ulir (screw), ban berjalan (belt), atau wadah (hopper) sebagai alat penghampar adukan.
Peralatan Pengecoran: harus mampu mengalirkan adukan beton dari mesin pengaduk atau alat pengangkut campuran beton dan menuangkannya ke setiap tempat tanpa terjadi pemisahan butir (segregasi) dan tanpa merusak permukaan yang dihampar. Pada pekerjaan besar, pengecoran seringkali menuntut penggunaan ulir (screw), ban berjalan (belt), atau wadah (hopper) sebagai alat penghampar adukan.
b.
Keadaan Khusus: Apabila lebar penghamparan tidak sama (misal pada jalan masuk / ramp, persimpangan), maka metoda pengecoran yang biasa tidak selalu dapat diterapkan. Untuk keadaan demikian, perlu diperhatikan agar untuk mencapai kedudukan akhir, campuran beton jangan dituang secara sembarangan dengan didorong atau digetarkan. Pengecoran secara manual mungkin perlu dilakukan, untuk menghindarkan pemisahan butir.
Ø PenghamparanKeadaan Khusus: Apabila lebar penghamparan tidak sama (misal pada jalan masuk / ramp, persimpangan), maka metoda pengecoran yang biasa tidak selalu dapat diterapkan. Untuk keadaan demikian, perlu diperhatikan agar untuk mencapai kedudukan akhir, campuran beton jangan dituang secara sembarangan dengan didorong atau digetarkan. Pengecoran secara manual mungkin perlu dilakukan, untuk menghindarkan pemisahan butir.
· Peralatan: Pada pekerjan besar, biasanya harus disediakan baik penghampar jenis dayung (paddle) atau ulir (auger), atau ban berjalan, maupun jenis wadah (hopper) dan ulir (auger), kecuali apabila digunakan penghampar acuan gelincir. Pada mesin penghampar acuan gelincir, peralatan penghampar (spreader) merupakan bagian yang sudah melekat (built-in). Untuk mengurangi pemisahan butir, semua peralatan harus dioperasikan secara seksama.
· Penghamparan Dua Lapis: Apabila tulangan terdiri dari anyaman dan harus diletakkan secara manual, maka beton di bawah anyaman harus dihampar terlebih dahulu tersendiri (struck-off), kemudian anyaman diletakkan dan selanjutnya lapisan berikutnya dihampar.
· Percobaan Penghamparan: Kontraktor harus menyediakan peralatan dan menunjukkan metode pelaksanaan pekerjaan dengan cara menghamparkan lapisan percobaan sepanjang tidak kurang dari 30 m di lokasi yang disediakan oleh Kontraktor di luar daerah kerja permanen.
Ø Pemadatan
· Pemadatan pada sambungan dan tepi-tepi, penekanan, pemadatan secara tumbuk, dan pemadatan secara getar, sampai tingkat tertentu cukup efektif, tapi tidak secara otomatis menjamin kepadatan beton. Mesin getar (vibrator), baik jenis internal maupun jenis permukaan dapat memberikan hasil yang baik.
6. Penyelesaian Akhir
a. Mesin Penghampar Acuan Gelincir (Slip Form): dirancang untuk sekali lintasan dapat menghampar, memadatkan, membentuk permukaan dan meratakan beton yang masih plastis, sehingga dapat memberikan beton yang padat, seragam; dan untuk mendapatkan permukaan yang disyaratkan hanya memerlukan penyelesaian akhir (dengan tangan) yang minimal.
b. Mesin Penghampar Acuan Tetap (Fixed Form): Mesin pencetak perkerasan jalan beton dengan sebilah pisau perata, kayuh berputar atau perlengkapan berputar, harus mencetak beton yang bersangkutan sehingga memiliki elevasi, dimensi, kerataan dan kehalusan yang disyaratkan; dan kemudian harus memadatkan beton tersebut dengan vibrasi atau dengan suatu kombinasi vibrasi dan penumbukan mekanis.
c. Pemadatan dan Penyelesaian dengan Balok Vibrasi Terkendali: bilamana pelat-pelat berukuran kecil atau tidak beraturan, atau bila tempat kerja yang bersangkutan sedemikian terbatas sehingga menyebabkan penggunaan cara-cara yang diuraikan di atas menjadi tidak praktis, maka beton dapat dicor dan diratakan secara manual tanpa pra-pemadatan atau segregasi.
d. Pembentukan Tekstur Permukaan: Permukaan perkerasan harus mencakup tektur dan harus kasar. Tekstur harus diperoleh dari pasir dalam mortar semen.
7. PELEPAAN (Floating)
Setelah ditempa dan dikonsolidasikan, beton harus diperhalus lagi dengan bantuan alat-alat lepa, dengan salah satu metoda berikut:
· Metode manual
· Metode Mekanis
8. MEMPERBAIKI PERMUKAAN
Setelah pelepaan selesai dan kelebihan air dibuang, sementara beton masih lembek, bagian-bagian yang melesak harus segera diisi dengan beton baru, ditempa, dikonsolidasi dan di finishing lagi. Daerah yang menonjol / berlebih harus dipotong dan di-finishing lagi. Sambungan harus diperiksa kerataannya. Permukaan harus terus diperiksa dan dibetuikan sampai tak ada lagi perbedaan tinggi pada permukaan dan perkerasan beton sesuai dengan kelandaian dan tampang melintang yang ditentukan.
9. PENYELESAIAN PERMUKAAN (Finishing)
Setelah sambungan dan tepian selesai, dan sebelum bahan perawatan (curing) dilakukan, permukaan beton harus dikasarkan dengan disikat melintang garis sumbu (centre line) jalan, atau dengan cara pembuatan alur (grooving) pada arah melintang atau memanjang jalan. Pengkasaran yang dilakukan dengan menggunakan sikat kawat selebar tidak kurang dari 45 cm, dan panjang kawat sikat dalam keadaan baru adalah 10 cm dengan masing-masing untaian terdiri dari 32 kawat. Sikat hams terdiri dari 2 baris untaian kawat, yang diatur berselang-seling sehingga jarak masing-masing pusat untaian maksimum 1 cm. Sikat harus diganti bila bulu terpendek panjangnya sampai 9 cm. Kedalaman tekstur rata-rata tidak boleh kurang dari 0,75 mm.
Komentar
Posting Komentar